24 October 2014
Breaking News
Home » Alawiyyin » HABIB UMAR BIN ISMAIL BIN YAHYA – Syahadatain- Cirebon

HABIB UMAR BIN ISMAIL BIN YAHYA – Syahadatain- Cirebon

 Download Link E-Book Ajaran Syahadatein ada di bawah. 

 MELAWAN PENJAJAH DENGAN DAKWAH

        Demi menegakkan ajaran islam, ia tak kenal kompromi dengan pemerintah kolonial Belanda.

Habib Umar lahir di Arjawinangun pada bulan Rabiu’ul Awwal 1298 H atau 22 Juni 1888. Ayahnya, Syarif Ismail, Adalah Dai berdarah Hadramaut yang menyebarkan Islam di Nusantara. Ibunya asli Arjawinangun, Siti Suniah binti H.Shiddiq. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak: Umar, Qasim, Ibrahim, dan Abdullah. Garis keturunan Habib Umar sampai kepada Nabi Muhammad melalui Sayyidina Husein.

Pandidikan agama langsung diperoleh dari ayahnya sendiri, baru kemudian ia mengembara ke berbagai pesantren di Jawa Barat, dari tahun 1913 hingga 1921.

Menyaksikan masyarakat Kampung Arjawinangun, Cirebon, tanah kelahiranya tenggelam dalam kebiasaan berjudi dan perbuatan dosa besar lainnya, Habib Umar merasa terpanggil untuk memperbaikinya. Dalam sebuah mimpi, ia bertemu Syarief Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, yang memberinya restu untuk niat baiknya tersebut. Selain itu Syarief Hidayatullah juga mengajarkan hakikat kalimat Syahadat kepadanya. Maka, setiap Malam Jum’at Habib Umar pun Menggelar pengajian di rumahnya.

Tapi upaya itu mendapat perlawanan serius dari masyarakat. Mereka mencemooh, menghina, dan mencibir pengajian Habib Umar. Dibawah tekanan masyarakat itu, ia terus berjalan dengan dakwahnya itu. Dan Karena pengajiannya dianggap meresahkan masyarakat, pada gilirannya pemerintah kolonial menangkap Habib Umar dan menjebloskannya ke dalam Penjara. Namun, tiga bulan kemudian ia di bebaskan, berkat perlawanan yang diberikan oleh jama’ahnya hingga jatuh korban di kalangan antek-antek Belanda.

Kepalang basah, tahun 1940, Habib Umar bahkan menyediakan rumahnya sebagai markas perjuangan melawan pemerintah kolonial Belanda. Tidak hanya itu, ia juga turun tangan dengan mengajarkan ilmu kanuragan kepada kaum muda.

Bulan Agustus 1940 ia ditangkap Belanda lagi dan pengajiannya ditutup, Enam bulan kemudian, 20 Februari 1941, ia dibebaskan.

Semangat perjuangan melawan kolonialisme semakin membara dalam dada Habib Umar. Maka ia pun banyak mengadakan kontak dengan tokoh-tokoh agama di seputar Cirebon, seperti Kiai Ahmad Sujak (Bobos), Kiai Abdul Halim (Majalengka), Kiai Syamsuri (Wanantara), Kiai Mustafa (Kanggraksan), Kiai Kriyan (Munjul).

Tidak Hanya pada masa penjajahan Belanda, Pada zaman Jepang pun nama Habib Umar melejit lagi sebagai pejuang agama. Ia memperkarakan Undang-Undang yang di keluarkan Jepang yang melarang pengajaran huruf Arab di Masyarakat. UU itu dianggap sebagai alat agar umat islam meninggalkan Al-Quran.

Panji-Panji Syahadatain

Pada masa kemerdekaan, Tahun 1947, Habib Umar mulai mengibarkan panji-panji Syahadatain. Itu bermula dari pengajian yang dipimpinnya yang semula dikenal sebagai “Pengajian Abah Umar” menjadi “Pengajian Jamaah Asyahadatain”. Ternyata pengajian ini mendapat simpati luas sehingga menyebar ke seluruh Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tahun 1951 lembaga itu mendapat restu dari presiden Soekarno.

Tahun 1951, Habib Umar sempat mendirikan Pondok Pesantren Asyahadatain di Panguragan. Namun  selain mengajarkan ilmu agama dan ketrampilan seperti bertani, menjahit, bengkel, koperasi, dan ilmu kanuragan, Habib Umar juga mengharuskan Jamaahnya bertawasul kepada Rasulullah, Malaikat, Ahlul bayt, Wali, setiap selesai shalat fardhu. Menurutnya, tawasul menyebabkan terkabulnya suatu doa. Lebih jauh lagi, Habib Umar juga mendirikan Tarekat  Assyahadatain.

Ia juga sekaligus pemimpin Tarekat Assyahadatain, menulis buku berjudul Awradh Thariqah Al-Syahadatain, sebagai pedoman bagi jamaahnya. Syahadat, menurut Habib Umar, tidak cukup dilafadzkan di mulut, tapi maknanya juga harus membias ke dalam jiwa. Dengan persaksian dua kalimat syahadat itu, seseorang akan diampuni atas dosanya, dan terkikis pula akar-akar kemusyrikan dalam dirinya.

Karyanya yang lain adalah Awrad (1972), menggunakan Bahasa daerah yang berisi ilmu ahlaq dan tasawuf, aqidah dan pedoman hidup kaum muslimin.

Habib Umar menghadap ke Hadirat Allah pada 13 Rajab 1393 atau 20 Agustus 1973. Semoga Amal Ibadah dan perjuangannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.

HABIB UMAR BIN ISMAIL BIN YAHYA Photo

(Sumber: ALKISAH NO.09/4 – 17 MEI 2009 HAL 146 ).

Bonus download Ebook Ajaran Asysyahadatain / Syahadatain

  jamaah_asysyahadatain.pdf (525.0 KiB, 5,136 hits)

m4s0n501

13 comments

  1. agus mudjiono Indonesia Google Chrome Windows
    #1

    cari buku judulnya “Awradh Thariqah Al-Syahadatain” karya habib umar dimana ya..??
    tlong informasinya. terima ksih.

    • #1.1

      buku auradh thariqoh asyahadatain yg ada hanya kopianya, dan sy pribadi ada kopianya.

  2. #2

    @agus mudjiono, silahkan di download e-book nya ajaran Thariqah Al-Syahadatain pengamalan lengkap. Link download sudah ada diatas.
    Terimakasih atas masukannya. Semoga bermanfaat.

  3. #3

    Alhamdulillah artikel mengenai abah umar yang sering di ceritakan oleh Almarhumah nenek saya ada disini, nenek saya murid langsung dari abah umar. Izin download dan copy share pdf nya dan mengambil ilmu yang ada di dalamnya. Haturnuhun.. :)

  4. #4

    Rahmat Alloh untuk semuanya

    Tauhid Islam berdiri di atas pondasi syahadat/persaksian “Aku menyaksikan

    tiada Tuhan selain Allah, dan aku menyaksikan Muhammad adalah utusan Allah.”

    Persaksian tersebut bukan sekedar kalimat atau ucapan, melainkan sebuah

    realisasi bahwa “Aku melihat Allah sedangkan Ia memang satu-satunya Tuhan,

    dan aku melihat Utusan Tuhan, sedangkan ia memang benar Muhammad. Allah

    bersifat ‘Wujud’, Wujudnya Allah adalah Adz-dzahir dan Al-bathin. Wujud

    Dzahir-Nya dapat dilihat dengan mata lahir manusia dan wujud Bathin-Nya

    Allah dapat dilihat dengan mata hati manusia. Karena Allah adalah Dzat Yang

    Maha Suci dan Rasulullah adalah manusia suci, maka syarat untuk mampu

    melihat Allah dan Rasulullah adalah dengan hati yang suci. Orang-orang yang

    mampu untuk demikian disebut orang-orang yang telah

    menyaksikan/bermusyahadah (syuhada’) atau mengenal/ma’rifat (arifin).

    Yang telah terjadi selama berabad-abad ini, kita sebagai umat Islam

    terlanjur didoktrin oleh orantua, ulama, ataupun guru-guru kita bahwa

    syahadat hanya sekedar ucapan atau kalimat. Kita hanya dicekoki cerita dan

    dongeng-dongeng saja tentang agama, karena mereka sendiri juga hanya

    mengetahui agama dari transfer cerita, bukan pembuktian/dalil. Mereka bilang

    kepada kita kalau bakso itu enak, padahal mereka sendiri belum pernah makan

    bakso. Padahal semua yang telah disampaikan oleh para Rasul adalah

    ‘kenyataan’, dan hanya sedikit sekali manusia yang sekarang ini mempunyai

    iman yang benar seperti imannya para Rasul dan Nabi. Namun kita maklumi,

    karena Rasulullah sendiri pada awal dakwah selama 7 tahun di Mekah hanya

    fokus pada ‘Laa Ilaha Illallah’ secara hakiki, karena memang sulit sekali

    mencapai derajat arifin kecuali bagi orang-orang yang dikehendaki Allah, dan saya yakin ulama seperti Habib Umar ini termasuk orang-orang yang telah ma’rifat.

    Maka ada 3 tingkatan iman :

    1. Iman Ilmiah, perumpamaanya : Anda belum pernah ke desa X, kemudian anda

    diberitahu seseorang bahwa di desa X ada seekor naga, kemudian Anda percaya

    karena sebagian besar orang juga percaya. Anda takut kalau tidak percaya

    nanti dimusuhi oleh orang lain. Iman ini sangat lemah, kalau ia terlanjur

    mati dalam keadaan seperti ini maka tidak akan ada bedanya dengan orang yang

    tidak beriman.

    2. Iman Aqliyah, perumpamannya : Anda melihat segala apa yang ada di alam

    ini, kemudian Anda berfikir bahwa tidak mungkin semua ini terjadi begitu

    saja. Pasti ada yang menciptakan dan mengatur semua ini. Iman ini

    kelihatannya kuat, tetapi hakikatnya sama lemahnya seperti yang pertama.

    Misalkan alam ini tidak diciptakan apakah lantas Allah tidak ada? Padahal

    Allah tetap ada tanpa syarat.

    3. Iman Musyahadah, sudah jelas diutarakan di atas. Inilah iman yang

    dikehendaki Allah, iman yang diajarkan oleh para Rasul dan Nabi.

    Maka syahadat dalam rukun Islam menempati tempat yang pertama, seseorang

    belum akan mampu sholat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lain dengan

    benar kalau Tauhidnya belum benar, paling hanya kelihatan fisiknya saja.

    Sholatnya tidak akan mampu menjauhkannya dari keji dan mungkar, puasanya

    tidak akan mampu membentuk jiwa qona’ah, zakatnya tidak akan mampu

    menumbuhkan sifat takut kepada Allah, hajinya tidak akan mampu menumbuhkan

    sifat ikhlas, dan sebagainya. Karena semua yang dilakukan hanyalah

    ‘kira-kira’, bagaimana mungkin ibadah-ibadah yang seperti ini berharap

    syafaat dan surga, Rasulullah saja tidak kenal. Dan kesempatan untuk

    mengenal Allah dan Rasulullah hanyalah semasa kita masih diberi hidup oleh

    Allah. Berapa banyak ulama, kyai, guru-guru agama dan para leluhur kita yang

    sekarang ini sedang menderita di alam barzah karena kemasa-bodohan mereka

    selama hidup. Kita hanya mampu mendoakan saja, karena kita sendiri juga

    masih sangat bodoh terhadap agama kita.

    Jika Anda ingin kaya jangan berguru pada dukun atau kyai yang miskin, tapi

    bergurulah pada orang kaya. Jika Anda ingin bisa terbang jangan berguru pada

    orang yang hanya cerita tentang terbang, tapi dia sendiri tidak bisa

    terbang. Demikian juga bila Anda ingin ma’rifat, maka carilah Rasulullah,

    karena beliau adalah manusia yang paling ma’rifat kepada Allah. Kalau tidak

    bisa, carilah orang-orang yang sudah ma’rifat, maka Anda akan diajari untuk

    sowan kepada Rasulullah dan oleh Rasulullah akan diajak untuk kenal kepada

    Allah. Sederhana tapi sangat sulit, kuncinya hanyalah kesungguhan.

    Tips : perbanyaklah sholawat kepada Rasulullah dengan penuh kesungguhan,

    Insya Allah beliau akan menghadiri Anda secara langsung, atau paling tidak

    Allah akan menunjukkan seorang pembimbing bagi Anda, orang yang telah

    ma’rifat. Bila belum ada sholawat yang dihapal, saya tawarkan sholawat “Yaa

    Sayidii Yaa Rasulullah.” Silahkan sempatkan dibaca dengan kesungguhan hati

    minimal setengah jam sehari sekali duduk, selama 40 hari tanpa putus. Insya Allah akan segera ada jawaban.

  5. #5

    salam, kalo temen2 pengen cari info tentang jamaah asysyahadatain habib umar bin ismail bin yahya, silahkan kunjungi blog kami. semoga bisa membantu. trims.

  6. #6

    asysahadatain tambah maju…………
    .
    .
    .
    .
    .
    sip……..

  7. abdus syukur dermayu Indonesia Mozilla Firefox Windows
    #7

    Alhamdulillah artikel Abah Syeh bisa terealisasi, semoga kita mendapat karomah Beliau slamet dunia akhirat dunia akhirat slamat.

  8. abah amang bin umar bin yahya Indonesia Mozilla Firefox Windows
    #8

    yth.bamah demi untuk meluruskan silsilah habib Umar bin ismail bin yahya mohon sumber yang anda peroleh perlu diklarifkasi dengan baik dan benar, sebab menyangkut masalah biodata. mohon kira nya koreksi ini diperhatikan . terima kasih.

    • #8.1

      sumber artikel ini sudah saya paparkan di tulisan akhir, ini saya copy kan cuplikan dari tulisan diatas:
      (Sumber: ALKISAH NO.09/4 – 17 MEI 2009 HAL 146 ).

  9. #10

    di al fatihah ada Maha rahman dan Maha rahim dan semua sudah diturunkan ke dunia tanpa tersisa dimana Fatihah ( sifat dan tingkah ) memenuhi jagad raya ini
    rahman ( bapak ) dan rahim ( ibu )
    yang tampak dari sifat bapak dan ibu
    1. bapak ( ya ayah kita ) dan ibu ( ya ibu kita )
    2. bapak ( laki-laki ) dan ibu ( wanita / perempuan )
    3. bapak ( surya / matahari / angkasa / kuasa ) dan ibu ( bumi suci )
    4. bapak ( siang ) dan ibu ( malam )
    5. bapak ( panas / hangat ) dan ibu ( dingin / sejuk /teduh )
    6. atas bawah, kanan kiri, depan belakang, keras lunak, padat cair, manis masam, asin tawar, dan sebagainya, api air,
    7. masih banyak, banyak lagi dan terhingga
    masing-masing membawa ilmu pengetahuan sendiri-sendiri

    coba kita kaji mengenai bumi suci, setiap tumpahan kotoran di bumi ini dibalas dengan kesuburan, semua limbah manusia akan berusaha dinetralkan oleh bumi, tetapi manusialah dan manusialan yang telah berbuat melampaui batas, maka rasakan sendiri akibat dari perbuatan kalian, karena sesunggunya Alloh tdk pernah berbuat aniaya sedikitpun terhadap makhluknya

    tulikan hasil kajianmu pada kertas seluas permukaan bumi
    maka tidak akan cukup kertasmu, butuh kertas seluas jagad raya

    lalu mengapa kita semua masih mengkafiri itu semua

  10. #11

    perlu dikoreksi, Kyai Kriyan itu bernama Anwaruddin, hidup jauh sebelum Habib Umar lahir, tinggal di Buntet Pesantren, punya banyak hubungan dengan pendiri Pon-Pes Nurul Huda Munjul Astanajapura Cirebon KH. Abdullah Lubbil Mashun Bin Abdullah yang hidup sekitar tahun 1782 M. begitu pula dengan Kyai Syamsuri yang hidup sebelum Habib Umar Lahir. mohon perbaikan, cari sumber yang falid, jangan asal tulis dari hasil pendengaran orang saja. Trims

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.