Home » Akidah dan Fiqih » HUKUM TAHLILAN (KENDURI ARWAH – SELAMATAN KEMATIAN) MENURUT MADZHAB IMAM SYAFI’I

HUKUM TAHLILAN (KENDURI ARWAH – SELAMATAN KEMATIAN) MENURUT MADZHAB IMAM SYAFI’I

TAHLILAN (KENDURI ARWAH – SELAMATAN KEMATIAN)
MENURUT MADZHAB IMAM SYAFI’I

Disertai Komentar ‘Ulama Lainnya Tentang Membaca al-Qur’an Untuk Orang Mati

Download link E-book ada dibawah

MUQADDIMAH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Masyarakat muslim Indonesia adalah mayoritas penganut madzhab Imam Syafi’i atau biasa disebut sebagai Syafi’iyah (penganut Madzhab Syafi’i). Namun, sebagain lainnya ada yang tidak bermadzhab Syafi’i. Di Indonesia, Tahlilan banyak dilakukan oleh penganut Syafi’iyah walaupun yang lainnya pun ada juga yang melakukannya. Tentunya tahlilan bukan sekedar kegiatan yang tidak memiliki dasar dalam syariat Islam, bahkan kalau ditelusuri dan dikaji secara lebih mendalam secara satu persatu amalan-amalan yang ada dalam tahlilan maka tidak ada yang bertentangan dengan hukum Islam, sebaliknya semuanya merupakan amalah sunnah yang diamalkan secara bersama-sama. Oleh karena itu, ulama seperti walisongo dalam menyebarkan Islam sangatlah bijaksana dan lihai sehingga Islam hadir di Indonesia dengan tanpa anarkis dan frontal, salah satu buahnya sekaligus kelihaian dari para ulama walisongo adalah diperkenalkannya kegiatan tahlilan dengan sangat bijaksana.Tahlilan, sebagian kaum Muslimin menyebutnya dengan “majelis tahlil”, “selamatan kematian”, “kenduri arwah” dan lain sebagainya. Apapun itu, pada dasarnya tahlilan adalah sebutan untuk sebuah kegiatan dzikir dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Yang mana didalamnya berisi kalimat-kalimat thayyibah, tahmid, takbir, tasybih hingga shalawat, do’a dan permohonan ampunan untuk orang yang meninggal dunia, pembacaan al-Qur’an untuk yang meninggal dunia dan yang lainnya. Semua ini merupakan amaliyah yang tidak ada yang bertentangan dengan syariat Islam bahkan merupakan amaliyah yang memang dianjurkan untuk memperbanyaknya.

Istilah tahlilan sendiri diambil dari mashdar dari fi’il madzi “Hallalla – Yuhallilu – Tahlilan”, yang bermakna membaca kalimat Laa Ilaaha Ilaallah. Dari sini kemudian kegiatan merahmati mayyit ini di namakan tahlilan karena kalimat thayyibah tersebut banyak dibaca didalamnya dan juga penamaan seperti ini sebagaimana penamaan shalat sunnah tasbih, dimana bacaan tasbih dalam shalat tersebut dibaca dengan jumlah yang banyak (300 kali), sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Namun, masing-masing tempat kadang memiliki sebutan tersendiri yang esensinya sebenarnya sama, sehingga ada yang menyebutnya sebagai “Majelis Tahlil”, “Selamatan Kematian”, “Yasinan” (karena dimulai dengan pembacaaan Yasiin), “Kenduri Arwah”, “Tahlil”, dan lain sebagainya.

Tahlilan sudah ada sejak dahulu, di Indonesia pun atau Nusantara pun tahlilan sudah ada jauh sebelum munculnya aliran yang kontra, yang mana tahlilan di Indonesia di prakarsai oleh para ulama seperti walisongo dan para da’i penyebar Islam lainnya. Tahlilan sebagai warisan walisongo terus di laksanakan oleh masyarakat muslim hingga masa kini bersamaan dengan sikap kontra segelintir kaum muslimin yang memang muncul di era-era dibelakangan. Dalam bahasan ini setidaknya ada beberapa hal pokok dalam tahlilan yang harus dipaparkan sebab kadang sering dipermasalah. Untuk mempermudah memahami masalah ini yakni amaliyah-amaliyah masyru’ yang terdapat dalam tahlilan (kenduri arwah) maka bisa di rincikan sebagai berikut :

I. DO’A UNTUK ORANG MATI
II. SHADAQAH UNTUK ORANG MATI
III. QIRA’ATUL QUR’AN UNTUK ORANG MATI

PERMASALAHAN QAUL MASYHUR

HILANGNYA PERSELISIHAN DAN PENERAPAN DALAM TAHLILAN

IV. JAMUAN MAKAN PADA PERKUMPULAN KEGIATAN TAHLIL

PENJELASAN TERKAIT HADITS KELUARGA JA’FAR

PENJELASAN TERKAIT HADITS JARIR BIN ABDULLAH

Haramnya Niyahah dan Pengertian Niyahah

V. SEJAK DAHULU KALA DAN TERJADI DI MAKKAH JUGA MADINAH
VI. PENGHARAMAN TAHLILAN DILUAR AKAL SEHAT

Niyahah Versus Tahlilan

Bolehnya Menangisi Mayyit

Ma’tam Versus Tahlilan (Kenduri Arwah)

VII. PENTING : TIDAK SETIAP BID’AH DIHUKUMI HARAM (BID’AH BUKAN HUKUM)

LANJUT MASALAH BID’AH

Pendefinisian Bid’ah

VIII. PENTING : ALIRAN WAHABI SEBAGAI BID’AH MUHARRAMAH
IIX. BEBERAPA KOMENTAR ULAMA

al-Mughni lil-Imam Ibnu Qudamah al-Hanbali

Al-Furu’ wa Tashhih al-Furu’, Imam Ibnu Muflah al-Maqdisi

Al-Inshaf fiy Ma’rifatir Rajih minal Khilaf, Imam ‘Alauddin al-Mardawi

Al-‘Uddah syarh al-‘Umdah, Imam Abdurrahman bin Ibrahim al-Maqdisi al-Hanbali

Zadul Mustaqni’ fi Ikhtishar al-Muqna’, Imam Syarifuddin Musa al-Hajawi

Ar-Raudl al-Marbi’ syarh Zaad al-Mustaqni’, Imam al-Bahuti al-Hanbali

Al-Bahr ar-Raiq syarh Kanz ad-Daqaid, Imam Ibnu Najim al-Mishri al-Hanafi

Muraqi al-Falah syarh Matn Nur al-Idlah, Imam Hasan bin ‘Ammar al-Mishri al-Hanafi

Al-Fiqhu ‘alaa Madzahibil Arba’ah, Syaikh Abdurrahman al-Jaziri

Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jami’ at-Turmidzi, Syaikh Abul ‘Alaa al-Mubarakfuri

Mirqatul Mafaatiih syarh Misykah al-Mashaabih, al-Mulla ‘Ali al-Qarii

Madzhab Zaidiyyah (Madzhab Yang Lebih Dekat Ke 4 Madzhab)

– Naylul Awthaar, Imam Muhammad bin ‘Ali asy-Syawkani

– Subulus Salaam, al-Amir ‘Izzuddin Ash-Shan’ani

IX. FATWA IBNU TAIMIYAH DAN IBNUL QAYYIM AL-JAUZIYYAH

QS. an-Najm Ayat 39 dan Hadits Terputusnya Amal

Hukum Keluarga al-Marhum membaca al-Qur’an Untuk Mayyit

Ibnu Taimiyah Pernah Ditanya Hal Yang Sama (al-Qiraa’ah lil-Mayyit)

Bertahlil 70.000 Kali Dan Menghadiahkan Kepada Mayyit

Pasal Khusus Tentang Membaca al-Qur’an Untuk Mayyit

Ibnu Taimiyyah Hanya Bicara Soal Keutamaan (Afdlaliyah)

Penuturan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (Murid Ibnu Taimiyah)

X. KOMENTAR ALIRAN WAHHABIYAH

Polemik Seputar Ahkam at-Tamanni al-Mawt

Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Shalih bin Fauzan al-Fauzan

Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz

Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif Alu asy-Syaikh

Komisi Fatwa Kerajaan Bani Saud (al-Lajnah ad-Daimah)

XI. PENUTUP

Semoga dengan semua ini bisa memberikan informasi berimbang mengenai komentar para ulama Ahl Sunnah wal Jama’ah demikian juga komentar dari yang tidak menyetujui. Wallahu A’lam []

Al-Faqir ats-Tsauriy (Bangkalan) || http://ashhabur-royi.blogspot.com

Download Ebook versi PDF:

  TahlilanMadzhabSyafii_PDF.zip (727,2 KiB, 2.958 hits)

Download Ebook versi CHM :

  TahlilanMadzhabSyafii_CHM.rar (240,2 KiB, 682 hits)

About Mustofa Syueb

Check Also

Risalah Amman Fatwa Konferensi Ulama Islam Internasional plus download pdf

RISALAH ‘AMMAN KONFERENSI PERSATUAN ULAMA’ ISLAM INTERNASIONAL   Konferensi ini diadakan di Amman, Mamlakah Arabiyyah …

187 comments

  1. @Saudara masnun: Sekarang bagaimana dengan kegiatan Tahlilan?
    Saya: lho mas? Dari awal kan sudah anda singgung bahwa dziafatul mayyit termasuk ritual tahlilan dan hukumnya kan sudah kita bahas KHILAF kan?, kalau saya kan mengatakan tahlil bukan pasti ittikhodzuddziafah, karena tahlil lebih luas dari pada itu.

    @Saudara Masnun: Tahlilan biasanya dilakukan bersamaan dengan kegiatan berkumpul dan makan-makan di rumah keluarga mayat?

    Saya: kalau di daerah saya mas, tahlilan bisa di tempatkan dan di lakukan dimana saja, coba anda cek di kota saya nganjuk, disitu orang sunatan aja tahlilan mas… waliamatul ars juga tahlilan…. Aqiqoh juga tahlilan…. Jadi intinya kasuistik mas, jangan di sama ratakan kalau tahlilan pasti waktu meninnggal aja…..kalau menurut saya tahlilan adalah majlis dzikir mas,,,, coba anda lihat isi tahlil.

    @Saudara masnun: Sepanjang yang baca dari kitab-kitab Fiqih para ulama, termasuk para ulama Syafi’iyah, saya belum menemukan ulama yang membahas masalah tahlilan kematian pada hari pertama sampai ke tujuh setelah kematian, pada kitab-kitab mereka.

    Saya: ada mas, yang salah satunya saya usung dalam bulughul umniyah, coba deh cek kitab aslinya…..

    @Saudara masnun: 1. Siapakah ulama yang berpendapat bahwa tahlilan pada hari pertama sampai hari ke tujuh setelah kematian, adalah sunnah?

    Saya: Coba deh cek ulang kitab bulughul Umniyyah, kan nada Khilaf, tapi redaksinya bid’ah hasanah kan? Saya gak tau apakah mas masnun mengatakan bid’ah hasanah sunnah atau tidak.

    @Saudara masnun: 2. Siapakah ulama yang berpendapat bahwa tahlilan pada hari pertama sampai hari ke tujuh setelah kematian, adalah bid’ah hasanah?

    Saya: Coba deh cek kitab bulughul umniyah lagi….

  2. Sebenarnya dari dulu saya sudah di dawuhi kyai saya, bahwa permasalahan tahlilan adalah ikhtilafiyyah, antara NU MUHAMMADIYAH dan lain-lain, tapi beliau berkata: “semua perkhilafan yang ada ini jangan engkau jadikan sebagai bahan perpecahan, tapi jadikanlah corak islam yang saling menguatkan”. Terima kasih saudara masnun atas masukan dan pencerahannya….

  3. #53
    Rex altengguri United States Unknow Browser Unknow Os

    Test …Hemm….menarik menarikk…msh jg bahas mslh khilafiah pdhl masing2 dah sama2 tau klo sampai kpnpun tak kan ada titik temunya.

  4. #54
    Masnun Tholab Indonesia Mozilla Firefox Windows

    Perkenankan saya menggapi pernyataan saudara Lasykar sebagai berikut :
    “Kalau menurut pemahaman saya:
    1. Bukankah Ulama yang memakruhkan (Mis: Imam Nawawi) tidak membedakan antara shodaqoh dan tidak?”

    -Benar, Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ dan Ar-Roudhoh tidak mengecualikan sedekah dan mengormati tamu. Beliau tidak mengatakan bahwa kalau menghidangkan makanan itu diniatkan untuk sedekah dan menghormati tamu, maka boleh. Artinya, biarpun menghidangkan makanan itu diniatkan untuk sedekah atau menghormati tamu, tetap BID’AH YANG TIDAK DIANJURKAN.
    Pendapat yang hamper sama juga dinyatakan oleh para ulama yang saya kutipkan pendaptnya di atas.

    2. Kalau ada yang membedakan dari ulama yang sepakat dengan Imam Nawawi, tolong sebutkan? Saya malah berterima kasih sebesar-besarnya pada anda.

    -Sudah terjawab pada pertanyaan di atas. Para ulama tidak membedakan apakah makan-makan itu dalam rangka sedekah atau menghormati tamu.

    3. titik tekan pada penghidangan ini kan masalah memberatkan keluarga mayit/meratap? Malah berkumpul aja tanpa ada minuman, makanan dll kan juga termasuk Ma’tam kan saudara masnun?

    -Menurut para ulama yang saya kutipkan pendapatnya di atas, yang dilarang adalah berkumpul-kumpul dan menghidangkan makanan di rumah keluarga mayat.
    -Kalau kumpul-kumpul saja, tidak makan-makan juga termasuk ma’tam yang dilarang? Saya tidak menemukan keterangan seperti itu dalam kitab-kitab mereka.

    4. seakan-akan dari komentar anda setelah kematian mayit keluarga mayit memberikan sedekah boleh? Benarkah? Tolong sebutkan dasar selain dari imam Nawawi, saya akan sangat berterimakasih.
    -Saya belum menemukan pendapat ulama yang melarang keluarga mayat untuk bersedekah.
    -Anjuran (perintah) bersedekah bagi setiap muslim (baik di waktu lapang maupun sempit) adalah merupakan ijma’ ulama, jadi tidak hanya pendapat Imam Nawawi.
    -Anjuran (perintah) menghormati tamu juga merupakan ijma’ ulama.
    -Termasuk anjuran (perintah) untuk membaca Al-Quran, dan membaca kalimat-kalimat thayibah, juga merupakan ijma’ ulama.

    Dengan uraian di atas, sangat wajar kita sering mendengar komentar-komentar di masyarakat, bahkan kadang-kadang juga Kyai atau Ustadz yang mengatakan :
    -Mau sedekah kok dilarang.
    -Mau menghormati tamu kok dilarang.
    -Mau membaca Al-Quran kok dilarang.

  5. #55
    Masnun Tholab Indonesia Mozilla Firefox Windows

    Pemahaman saya yang bodoh itu begini :
    Yang dilarang para ulama di atas bukan sedekahnya, atau menghormati tamunya, atau membaca Al-Qur’annya.
    Yang dilarang adalah mengerjakan amalan-amalan tersebut pada hari-hari dan waktu-waktu tertentu, dimana yang demikian itu tidak diperintahkan dan atau dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan juga tidak diamalkan oleh para sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Yang mendasari pemahaman saya, diantaranya adalah pendapat para ulama di bawah ini :
    Imam Zaenudin dalam kitab Irsyadul ’Ibad berkata :
    واعلم أن ما يفعله الناس يوم عاشوراء من الاغتسال ولبس الثياب الجدد والاكتحال، والتطيب والاختضاب بالحناء، وطبخ الأطعمة بالحبوب وصلاة ركعات بدعة مذمومة، فالسنة ترك ذلك كله، لأنه لم يفعله رسول الله وأصحابه، ولا أحد من الأئمة الأربعة وغيرهم
    Ketahuilah bahwa apa-apa yang dilakukan orang-orang pada hari Asyura yaitu mandi, memakai pakaian baru, memakai celak, minyak wangi, pacar dan memasak makanan dan shalat beberapa reka’at adalah BID’AH MADZMUMAH (tercela), yang sunnah adalah meninggalkan semuanya, karena para sahabat tidak melakukannya, tidak pula salah seorang dari imam yang empat dan para ulama lainnya.
    -Bukankah mandi, memakai pakaian baru, memakai celak, minyak wangi, pacar dan memasak makanan dan shalat beberapa reka’at adalah amalan yang baik?
    Apa salahnya?

  6. #56
    Masnun Tholab Indonesia Mozilla Firefox Windows

    Imam Nawawi Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab berkata :
    (العاشرة) الصلاةُ المعروفةُ بصلاة الرغائب وهي ثنتى عشرةَ ركعةً تصلي بين المغربِ والعشاءِ ليلةِ أولِ جمعةٍ في رجبَ وصلاةُ ليلةِ نِصْفِ شعبانَ مائةَ ركعةٍ وهاتانِ الصلاتانِ بدعتانِ ومنكرانِ قَبِيْحَتَانِ ولا يَغْتَرُّ بذكرهما في كتاب قوتِ القلوبِ واحياء علوم الدين ولا بالحديث المَذْكُوْرِ فيهما فان كلَّ ذلك باطلٌ
    Shalat yang terkenal dengan shalat Raghaib, yaitu dua belas rekaat yang ditunaikan anatara maghrib dan Isya malam jum’at pertama bulan Rajab, dan shalat malam Nisyfu Sya’ban seratus rekaat. Dua shalat ini adalah dua bid’ah dan dua kemungkaran yang jelek. Jangan terpedaya dengan disebutkannya dua shalat tersebut dalam kitab Kutul Qulub dan Ihya Ulumiddin, tidak pula dengan hadits yang disebutkan tentang keduanya, karena semuanya itu bathil.
    -Bukankah Shalat sunnah dan shalat malam adalah amalan yang utama?
    Apa salahnya?

  7. #57
    Masnun Tholab Indonesia Mozilla Firefox Windows

    Syeikh Zakaria Al-Anshary Asy-Syafi’i dalam kitab Al-ghororil Bahiyah Syarhul Bahjatul Wardiyyah :
    وَأَمَّا تَهْيِئَةُ أَهْلِهِ طَعَامًا لِلنَّاسِ فَبِدْعَةٌ مَذْمُومَةٌ ذَكَرَهُ فِي الرَّوْضَةِ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ وَيُسْتَدَلُّ لَهُ بِقَوْلِ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصُنْعَهُمْ الطَّعَامَ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ
    Adapun yang dilaksanakan keluarga mayit menyiapkan makanan bagi orang-orang adalah BID’AH YANG TERCELA, sebagaimana disebutkan dalam Arruoudhoh. Dikatakan dalam Al-Majmu’ yang menjadi dasar adalah ucapan Jarir bin Abdullah bin Bajali,
    “Kami menganggap berkumpul ke tempat keluarga orang yang mati dan membuat makanan setelah penguburannya, termasuk ratapan,” Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad sahih, dan dalam riwayat Ibnu Majah tidak terdapat kata ‘ba’da dafnihi’
    [Al-ghororil Bahiyah Syarhul Bahjatul Wardiyyah 6/164 ]
    1. Bukankah bersedekah kepada tetangga adalah amalan yang baik?
    2. Bukankah menghormati tamu adalah amalan yang baik?
    Apa salahnya?
    MOHON KOREKSI KALAU PEMAHAMAN SAYA KELIRU.

  8. @Saudara Masnun Tholab
    Perkenankan saya menggapi pernyataan saudara Lasykar sebagai berikut :
    “Kalau menurut pemahaman saya:
    1. Bukankah Ulama yang memakruhkan (Mis: Imam Nawawi) tidak membedakan antara shodaqoh dan tidak?”
    -Benar, Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ dan Ar-Roudhoh tidak mengecualikan sedekah dan mengormati tamu. Beliau tidak mengatakan bahwa kalau menghidangkan makanan itu diniatkan untuk sedekah dan menghormati tamu,maka boleh. Artinya, biarpun menghidangkan makanan itu diniatkan untuk sedekah atau menghormati tamu, tetap BID’AH YANG TIDAK DIANJURKAN.
    Pendapat yang hamper sama juga dinyatakan oleh para ulama yang saya kutipkan pendaptnya di atas.
    Saya: Terima kasih berarti anda telah sepakat dengan saya, TENTANG ADANYA KHILAF dan coba lihat ulang pendapat Imam Nawawi Albantani dan Imam Zailai

    2. Kalau ada yang membedakan dari ulama yang sepakat dengan Imam Nawawi, tolong sebutkan?Saya malah berterima kasih sebesar-besarnya pada anda.
    -Sudah terjawab pada pertanyaan di atas. Para ulama tidak membedakan apakah makan-makan itu dalam rangka sedekah atau menghormati tamu.
    Saya: Ternyata KHILAF JUGA.

    3. titik tekan pada penghidangan ini kan masalah memberatkan keluarga mayit/meratap? Malah berkumpul aja tanpa ada minuman, makanan dll kan juga termasuk Ma’tam kan saudara masnun?
    -Menurut para ulama yang saya kutipkan pendapatnya di atas, yang dilarang adalah berkumpul-kumpul dan menghidangkan makanan di rumah keluarga mayat.
    Saya: Berarti sepakat dengan saya, Dan KHILAF.

    -Kalau kumpul-kumpul saja, tidak makan-makan juga termasuk ma’tam yang dilarang? Saya tidak menemukan keterangan seperti itu dalam kitab-kitab mereka.
    Saya: Coba anda lihat di majmu’ ta’rif ma’tam, makruh duduk berlama-lama waktu ta’ziah, (tdk ada makan2nya) tapi itupun Qoul Ulama Yang Mengatakan Makruh, berarti TETEP KHILAF.

  9. 4. seakan-akan dari komentar anda setelah kematian mayit keluarga mayit memberikan sedekah boleh? Benarkah? Tolong sebutkan dasarselain dari imam Nawawi, saya akan sangat berterimakasih.
    -Saya belum menemukan pendapat ulama yang melarang keluarga mayat untuk bersedekah.
    -Anjuran (perintah) bersedekah bagi setiap muslim (baik di waktu lapang maupun sempit) adalah merupakan ijma’ ulama, jadi tidak hanya pendapat Imam Nawawi.
    -Anjuran (perintah) menghormati tamu juga merupakan ijma’ ulama.
    -Termasuk anjuran (perintah) untuk membaca Al-Quran, dan membaca kalimat-kalimat thayibah,juga merupakan ijma’ ulama.
    Dengan uraian di atas, sangat wajar kita sering mendengar komentar-komentar di masyarakat, bahkan kadang-kadang juga Kyai atau Ustadz yang mengatakan :
    -Mau sedekah kok dilarang.
    -Mau menghormati tamu kok dilarang.
    -Mau membaca Al-Quran kok dilarang.
    Saya: Mas Masnun yang saya kehendaki bukan sedekah saja tanpa embel2 ITTIKHODZUDDIAFAH, kalo itu mah dalilnya juga bejibun, yang saya kehendaki ADAKAH DALIL SEDEKAH PLES IITIKHODZUDZIAFAH YANG DIPERBOLEHKAN MENURUT Imam nawawi yg sependapat dengan imam Nawawi, tidak ada bukan? Yang ada adalah ibarat dari Imam Nawawi Al Bantani, betul kan? BERARTI JUGA TERJADI KHILAF KAN?

  10. @Saudara Masnun Tholab Pemahaman saya yang bodoh itu begini : Yang dilarang para ulama di atas bukan sedekahnya, atau menghormati tamunya, atau membaca Al-Qur’annya.
    Yang dilarang adalah mengerjakan amalan-amalan tersebut pada hari-hari dan waktu-waktu tertentu, dimana yang demikian itu tidak diperintahkan dan atau dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan juga tidak diamalkan oleh para sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.
    Yang mendasari pemahaman saya, diantaranya adalah pendapat para ulama di bawah ini :
    Imam Zaenudin dalam kitab Irsyadul ’Ibad berkata :
    واعلم أن ما يفعله الناس يوم عاشوراء من الاغتسال ولبس الثياب الجدد والاكتحال، والتطيب والاختضاب بالحناء، وطبخ الأطعمة بالحبوب وصلاة ركعات بدعة مذمومة، فالسنة ترك ذلك كله، لأنه لم يفعله رسول الله وأصحابه، ولا أحد من الأئمة الأربعة وغيرهم
    Ketahuilah bahwa apa-apa yang dilakukan orang-orang pada hari Asyura yaitu mandi, memakai pakaian baru, memakai celak, minyak wangi, pacar dan memasak makanan dan shalat beberapa reka’at adalah BID’AH MADZMUMAH (tercela), yang sunnah adalah meninggalkan semuanya, karena para sahabat tidak melakukannya, tidak pula salah seorang dari imam yang empat dan para ulama lainnya.
    -Bukankah mandi, memakai pakaian baru, memakai celak, minyak wangi, pacar dan memasak makanan dan shalat beberapa reka’at adalah amalan yang baik?
    Apa salahnya?
    Saya: Oke, BERARTI DALAM PERMASALAHAN ITTIKHODZUDDIAFAH SAYA ANGGAP SAUDARA MASNUN SEPENDAPAT DENGAN ADANYA PERKHILAFAN,
    Sekarang yang kita bahas adalah permasalahan dalam praktek Asyuro, tapi sebelumnya saya ingin memberitahukan kepada saudara masnun:
    1. Dalam kalangan kami, Nahdliyyin. sampai sekarang kami tetap mengkaji hukum Waqiiyyah di masyarakat dengan Istilah bahtsul masaail.
    2. Sehingga yang terjadi di masyarakat, walaupun mungkin orang luar mengatakan itu adalah orang NU, kami tidak serta merta membenarkannya.
    3. dalam metode dakwah, secara keumuman kami mengikuti falsafah , mauidzoh hasanah dengan santun dan sopan, karena diakui atau tidak secara historis takluknya masyarakat jawa oleh walisongo dengan metode seperti tadi.
    4. dan dalam fiqih kami mengakomodir semua pendapat madzahibul arba’ah, dalam bidang lainnya Imam Ghozali, Imam Junaid, Imam Abu hasan Al As’ari dan Imam Al Maturidi.
    5. dan dengan itu selama beratus-ratus tahun kami rukun.

  11. Oke dalam masalah asyuro

    Tarjamah Saudara Masnun: “Ketahuilah bahwa apa-apa yang dilakukan orang-orang pada hari Asyura yaitu mandi, memakai pakaian baru, memakai celak, minyak wangi, pacar dan memasak makanan dan shalat beberapa reka’at adalah BID’AH MADZMUMAH (tercela), yang sunnah adalah meninggalkan semuanya, karena para sahabat tidak melakukannya, tidak pula salah seorang dari imam yang empat dan para ulama lainnya.”
    Tarjamah Saudara Masnun: “ Shalat yang terkenal dengan shalat Raghaib, yaitudua belas rekaat yang ditunaikan anatara maghrib dan Isya malam jum’at pertama bulan Rajab, dan shalat malam Nisyfu Sya’ban seratus rekaat. Dua shalat ini adalah dua bid’ah dan dua kemungkaran yang jelek. Jangan terpedaya dengan disebutkannya dua shalat tersebut dalamkitab Kutul Qulub dan Ihya Ulumiddin, tidak pula dengan hadits yang disebutkan tentang keduanya, karena semuanya itu bathil.”

    Saya: perlu mas masnun ketahui:
    1. Itupun Juga masalah Khilafiyyah Mas… Imam Ghozali dan yang sependapat dengan Imam Nawawi dan yang sependapat. JADI ITU JUGA KHILAFIYYAH, dengan kapasitas pribadi saya yang Cuma santri pondok kecil, saya takluk kepada kedua Imam Tersebut, Cuma saya mengambil salah satu pendapat dari kedua Imam tersebut sebagai Naqil, dan saya mengamalkan dawuh Imam Nawawi, tanpa sedikitpun mengecilkan Imam Ghozali,karena beliau juga panutan saya, dan itulah yang membuat islam indah.
    2. perlu mas masnun ketahui kamipun juga membuat keputusan dalam bahtsul masaail seperti Imam Nawawi, dan coba saya cuplikkan sedikit hasil bahtsul masaail yang berkaitan tentang permasalahan asyuro’, nisyfu sa’ban dan rebo wekasan:

    Deskripsi Masalah
    Dalam Hamisyi I’anah al-Tholibin (Juz I hal. 270) disebutkan bahwa; ” Sholat malam Roghoib Sholat Nishfu Sya’ban dan Hari A’syuro’ termasuk bid’ah qobihah.” Padahal pada kitab khozinatul Asror dan dalam majmuk syarif malah diterangkan tata cara berikut niatnya..
    Pertanyaan
    Apa motif terjadinya perbedaan pendapat di atas?
    PP Kencong Jember
    Jawaban:
    Pendapat itu dipengaruhi oleh penilaian atas status hadits dari sisi sanad (dlo’if atau maudlu’) dan berbagai ritualnya disyari’atkan atau tidak.
    Referensi:
    إتحاف السادات الجزء الثالث ص 702-707 (طبعة جديدة)
    قال الإمام أبو محمد العز بن عبد السلام لم يكن ببيت المقدس قط صلاة الرغائب في رجب ولا صلاة نصف شعبان فحدث في سنة 448 أن قدم عليهم رجل من نابلس يعرف بابن الحي وكان حسن التلاوة فقام فصلى في المسجد الأقصى ليلة النصف من الشعبان فأخرم خلفه رجل ثم غنضاف ثالث ورابع فما ختم إلا وهم جماعة كثيرة ثم جاء في العام القابل فصلى معه خلق كثيروانتشرت في المسجد الأقصى وبيوت الناس ومنازلهم ثم استقرت كأنها سنة إلي يومنا هذا إهـ. قال العراقي أورده روزين في كتابه وهو حديث موضوع إهـ. وقال ابن الجوزي موضوع على رسول الله وقد اهتموا به ابن جهضم ونسبوه إلى الكذب وسمعت شيخنا غبد الوها بالحافظ يقول رجاله مجهولون وقد فتشت عليهم جميع الكتب فيما وجدتهم اهـ.-إلى أن قال- وممن حكم بوضعها الإمام سراج الدين أبو بكر الطرطوسي من أئمة المالكية وعز الدين بن عبد السلام- إلى أن قال- واقتفاهم في ذلك العلامة البرهان الحلبي شارح المنية من أصحابنا المتأخرين فنقل أن التنفل بالجماعة إذا كان على سبيل التداعي مكروه ما عدا التراويح والكسوفين والإستسقاء ورتب على ذالك أن صلاة الرغائب ليلة أول جمعة من رجاب بالجماعة بدعة مكروهة. ونقل عن حافظ الدين البزازي شرعأ في نفل وأفسداه. واقتدى أحدهما بالآخر في القضاء لا يجوز لاختلاف السبب وكذا اقتداء الناذر بالناذر لا يجوز. ومن هذا كره الإقتداء في صلاة الرغائب وصلاة البراءة وليلة القدر إلي أن قال……….. ثم نقل عن ابن الجوزي والطرطوسي أسلافنا ذكره ثم قال وقد ذكروا لكراهتها وجوها منها فعلها بالجماعة وهي نافلة ولم يرد به الشرع و منها تخصيص سورة الإخلاص و القدر ولم يرد به الشرع. ومنها تخصيص ليلة الجمعة دون غيرها وقد ورد النهي تخصييص ليلة يوم الجمعة دون غيرها وقد ورد النهي عن تخصيص يوم بصيام وليلته بقيام. ومنها أن العامة يعتقدونها فرضا وكثير منهم يتركون الفرائض ولا يتركونها وهي المصيبه العظمى.ومنها فعلها يغري قاصد وضع الأحاديث بالوضع والإفتراء غي النبي  ومنها أن الاشتغال بعد السور مما يخل الخشوع وهو مخالف للسنة. ومنها أن صلاة الرغائب مخالفة للسنة في تعجيل الفطر ومنها أن سجدتيها مكروهتان إذ لم يشرع التقرببسجدة منفردة بلا ركوع في غير سجدة التلاوة عندى أبي حنيفة ومالك وعندغيرهما غيرها وغير سجدة الشكر ومنها أن الصحابة والتابعبين ومن بعدهم من الأئمة المجتهدين لم ينقل عنهم فعل هذه الصلاة فلو كانت مشروعة لما فاتت السلف وإنما حدثت بعد الأربعمائة اهـ.
    وهو كلام حسن وإن كان في بعض ما أورده محل نظر و تأمل ففي أداء النفل جماعة اختلاف في المذهب وقد سبق النسفي البزازي بالجواز وتخصيص بعض السور في بعض صلوات معينة قد ورد به الشرع ومن طلع كتاب الحديث عرف ذلك وكذلك تخصيص بعض اليالي بالقيام وبعض الأيام بالصيام ورد به الشرع وإن قلنا بالكراهة فهي تنـزيهية كما صرح به العلماء وكون أن العامة يعتقيدونها فرضا لازما لا يتجه به الكراهة فإنهم إذافهموا ذلك خلاف ما يفهمه الخاصة كان ذلك لتقصيرهم وسوء فهمهم فطريقهم أن يسألوا ويتفهموا ماعلينا من العامة إذا غلظوا في فهمهمولو جئنا ننظر إلى هذا غيرنا أوضاعا شرعية كثيرا وكون أن فعلها يغري واضع الأحاديث على علي وضعها فهذا قد قفل بابه من بعد الثلاثمائة فلا تكون هذه الملاحظة وجها لكراهتها وكون أن الاشتغال بعد السو مما يخل الخشوع ففيه خلاف والأشهر جوازه في النوافل وما ذكر أن تعجيل الإفطار فيها مما يخالف السنة هو غريب بالسنة قاضية على استحباب التعجيل في الإفطار وكراهة تأخيره إلى إشتباك النجوم أما كراهة السجدة المنفردة فسُلِّمَ إلا إن المدعي يقول لم لا يجوز أن تكون هذه السجدة شكرا لنعمة الله تعالى على رأي من يجوز ذلك.
    وقوله أن الصحابة والتابعبين ومن بعدهم لم ينقل عنهم أنهم صلوها فاعلم لا يلزم من عدم فعلهم لها على الطريقة المعهدة كراهتها أوعدم ورودها ثم هي من التطوّعات من شاء صلاّها ومن شاء تركاها.وقوله وإنما حدثت بعد الأربعمائة وكأنه يريد شهرة أمرها عملا وإلا فأبو طالب المكي قد نوه في شأنها في قوت القلوب ووفاته سنة 373 وينظر إلى قول ابن الجوزي حيث قال إن المتهم بوضعها علي بن عبد الله بن جهضم وليس هو في سند أبي طالب المكي بل هو إن لم يكن متأخرا عنه في الزمن فهو معاصر له وهو مع ذلك ليس من الوضاعين. قال الذهبي في الديوان ليس بثقة فغاية ما يقال في حديثه إنه ضعيف لا موضوع فكم من رجل غير ثقة وحديثه لايدخل في حيز المنكر وإن كان المهتم بوضعها آخر غير ابن جهضم فلا أدري وباقي رجاله من فوق ابن جهضم علي بن محمد بن سعيد البصري وخلف بن عبد الله لم أر من ذكرهم في الضعفاء فتأمل ذلك بإنصاف والله أعلم . وقد ذكر ابن الجوزي أيضا في الموضوعات صلاة في أول ليلة رجب أعرضنا عن ذكرهما لأن المشهور بالرغائب هي الصلاة التي ذكرها المصنف لا غير – إلى أن قال – وقال العراقي حديث الصلاة ليلة النصف باطل ولابن ماجة من حديث على “إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها” وإسناده ضعيف اهـ قلت وأخرجه عبد الرزاق في مصنفه وزاد “فإن الله عز وجل ينزل فيها لغروب الشمس إلى السماء فيقول ألا مستغفر أغفر له الا مسترزق أرزقه حتى يطلع الفجر” وفي إحياء ليلة النصف أحاديث وردت في طريق كثيرة . وأما حديث صلاتها الذي أورده المصنف فقد أخرجه ابن الجوزي في الموضوعات فقال أخبرنا محمد بن ناصر الحافظ أنبأنا أبو علي الحسن بن أحمد بن الحسن الحداد أخبرنا أبو أحمد بن فضل بن محمد المقري أخبرنا أبو عمر وعبد الرحمن بن طلحة الطلحي أخبرنا الفضل بن محمد الزعفراني حدثنا هارون بن سليمان حدثنا على بن الحسن عن سفيان الثوري عن ليث عن مجاهد عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال “يا علي من صلى مائة ركعة في ليلة النصف من شعبان يقرأ في كل ركعة بفاتحة الكتاب وقل هو الله أحد عشر مرات ما من عبد يصلي بهذه الصلاة إلا قضى الله له كل حاجة طلبها تلك الليلة” . ثم أطال الثواب من هذا الجنس قدر صفحة تركت ذكرهم ثم قال هذا حديث لا شك أنه موضوع ورواته مجاهل وفيهم ضعفاء وقد رأينا كثيرا ممن يصلي هذا الصلاة ويتفق قصر الليل فتفوتهم صلاة الفجر ويصبحون كسالى ولقد جعلها أئمة الأحادث مع صلاة الرغائب شبكة لجمع العوام وطلب الرئاسة والتقدم وملأ بذكره القصص مجالسهم وكل ذلك عن الحق بمعزل .

  12. Dan Sholat rebo wekasan:

    Masalah:
    Shalat rebo wekasan dan rangkainnya, bagaimana hukumnya menurut fuqoha dan menurut ulama sufi?
    Jawab:
    Menurut fatwa Roisul Akbar Almarhum Asyaikh Hasim Asy’ari tidak boleh. Shalat rebo wekasan karena tidak masyru’ah dalam syara’ dan tidak ada dalil syar’i. adapun fatwa tersebut sabagaimana dokumen asli yang ada pada cabang NU sidoarjo sebagai berikut:
    “Kados pundi hukumipun ngelampahi shalat rebo wulan shofar, kasebat wonten ing kitab mujarobat lan ingkang kasebat wonten ing akhir bab 18?”
    فائدة اخرى : ذكر بعض العارفين من اهل الكشف والتمكين أنه ينزل كل سنة ثلاثمائة وعشرون ألفا من البليات وكل ذلك فى يوم الأربعاء الآخير من شهر صفر فيكون فى ذلك اليوم أصعب ايام السنة كلها فمن صلى فى ذلك اليوم اربع ركعات ….. الخ.
    فونافا ساهى فونافا أوون؟ يعنى سنة فونافا حرام؟ أفتونا اثابكم الله؟
    حاشية المهى على الستين مسئلة وونتن آخريفون باب يلامتى ميت وَنَصَّهُ: فَائِدَةٌ : ذَكَرَ فىِ نَزْهَةِ الْمَجاَلِسِ عَنْ كِتَابِ الْمُخْتاَرِ وَمَطَالِعِ الاَنْواَرِ عَنْ النَّبِى صلى الله عليه وسلم لا يَاْتِى عَلَى الْمَيَّتِ أَشَدُّ مِنَ اللَّيْلَةِ الأُلَى فَارْحَمُواْ مَوْتَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فِيْهِمَا فَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ وَإِلَهُكُمْ … وَقُلْ هُوَاللهُ أَحَدْ اِحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً وَيَقُولُ : الّلهُمَّ إِنِّى صَلَّيْتُ هَذِهِ الصَّلاةَ وَتَعْلَمُ مَااُرِيْدُ. اللهم ابْعَثْ ثَواَبَها اِلَى قَبْرِ فُلان فَيَبْعَثُ الله مِنْ سَاعَتِهِ اَلَى قَبْرِهِ اَلْفَ مَلِكِ مَعَ كُلِّ مَلِكِ نُوْرٌ هَدِيَّةً يُؤَنِّسُوْنَةُ فِى قَبْرِهِ اِلَى اَنْ يُنْفَخَ فِى الصُّوْرِ وَيُعْطِىْ اللهُ المُصَلَّى بِعَددِ مَاطَلَعَتْ عَلَيهِ الشَّمْسُ أَلْفَ شَهِيْدٍ وَيُكْسِى أَلْفَ حُلَّةٍ. اِنْتَهَى وَقَدْ ذَكَرَنَا هَذِهِ الْفَائِدَةُ لِعُظْمِ نَفْعِهَا وَخَوْفاً مَنْ ضِيَاعِهاَ، فَيَنْبَغِى لِكُلِّ مُسْلِمٍ اَنْ يُصَلِّيْهَا كُلِّ لَيْلَةٍ لأَمْواَتِ الْمُسْلِمِيْنَ.
    جواب:
    بسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين على امور الدنيا والدين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم.
    أورا وناع فيتواه, اجاء-اجاء لن علاكونى صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سوال, كرنا صلاة لورو ايكو ماهو دودو صلاة مشروعة فى الشرع لن اور انا اصلى فى الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كيا كتاب تقريب, المنهاج القويم, فتح المعين, التحرير لن سأفندوكور. كيا كتاب النهاية, المهذب لن إحياء علوم الدين, كابيه ماهو اورا انا كع نوتور صلاة كع كاسبوت.
    ومن المعلوم انه لوكان لها أصل لبادروا إلى ذكرها وذكر فضلها, والعادة تحيل ان يكون مثل هذه السنة, وتغيب عن هؤلاء وهم أعلم الدين وقدوة المؤمنين. لن اورا وناع اويه قيتواه أتوا عافيك حكوم ساكا كتاب مجربات لن كتاب نزهة المجالس. كتراعان سكع حواشى الأشباه والنظائر للإمام الحمدى قال : ولا يجوز الإفتاء من الكتب الغير المعتبرة, لن كتراعان سكع كتاب تذكرة الموضوعات للملا على القارى : لا يجوز نقل الأحاديث النبوية والمسائل الفقهية والتفاسير القرانية إلا من الكتب المداولة ( المشهورة) لعدم الإعتماد على غيرها من ودع الزنادقة وإلحاد الملاحدة بخلاف الكتب المحفوظة. انتهى لن كتراعان سكع كتاب تنقيح الفتوى الحميدية : ولا يحل الإفتاء من الكتب الغريبة. وقد عرفت ان نقل المجربات الديربية وحاشية الستين لاستحباب هذه الصلاة المذكورة يخالف كتب الفروع الفقهية فلا يصح ولا يجوز الإفتاء بها. لن ماليه حديث كع كاسبات وونتن كتاب حاشية الستين فونيكا حديث موضوع. كتراعان سكع كتاب القسطلانى على البخارى : ويسمى المختلف الموضوع ويحرم روايته مع العلم به مبينا والعمل به مطلقا. انتهى
    قال فى نيل الأمانى : ويحرم روايته أى على من علم او ظن انه موضوع سواء كان فى الأحكام أو فى غيرها كالمواعظ القصص والترغيب إلا مع بيان وضعه لقوله صلى الله عليه وسلم : من حدث عنى يرى انه كذب فهو أحد الكذابين وهو من الكبائر حتى قال الجوينى عن أئمة أصحابنا يكفر معتمده ويراق دمه. والجمهور انه لا يكفر إلا إن ستحله وانما يضعف وترد روايته أبدا, بل يختم ….. انتهى. وليس لأحد أن يستبدل بما صح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم انه قال : الصلاة خير موضوع فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل, فان ذلك مختص بصلاة مشروعية سكيرا اورا بيصا تتف كسنتانى صلاة هدية كلوان دليل حديث موضوع, موعكا اورا بيصا تتف كسنتانى صلاة ربو وكاسان كلوان دليل داووهى ستعاهى علماء العارفين, مالاه بيصا حرام, سباب ايكى بيصا تلبس بعبادة فاسدة. والله سبحانه وتعالى أعلم.
    (هذا جواب الفقير اليه تعالى محمد هاشم أشعارى جومباع

    3. oleh karena itu mas masnun apapun yang terjadi di masyarakat insya alloh, kami kaum sarungan akan tetap berjuang menegakkan islam, tapi dengan cara yang kami tempuh BILMAUIDZOTIL HASANAH.
    4. DAN MASALAH FURUIYYAH FIQH, ALANGKAH INDAHNYA KITA JADIKAN SEBAGAI KHAZANAH ISLAM YANG LUAS. TINGGAL ANDA MENGIKUTI YANG MANA?

  13. @Masnun Tholab Syeikh Zakaria Al-Anshary Asy-Syafi’i dalam kitab Al-ghororil Bahiyah Syarhul Bahjatul Wardiyyah :
    وَأَمَّا تَهْيِئَةُ أَهْلِهِ طَعَامًا لِلنَّاسِ فَبِدْعَةٌ مَذْمُومَةٌ ذَكَرَهُ فِي الرَّوْضَةِ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ وَيُسْتَدَلُّ لَهُ بِقَوْلِ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِالْمَيِّتِ وَصُنْعَهُمْ الطَّعَامَ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ
    Adapun yang dilaksanakan keluarga mayit menyiapkan makanan bagi orang-orang adalah BID’AH YANG TERCELA, sebagaimana disebutkan dalam Arruoudhoh. Dikatakan dalam Al-Majmu’ yang menjadi dasar adalah ucapan Jarir bin Abdullah bin Bajali,
    “Kami menganggap berkumpul ke tempat keluarga orang yang mati dan membuat makanan setelah penguburannya, termasuk ratapan,” Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dengansanad sahih, dan dalam riwayat Ibnu Majah tidak terdapat kata ‘ba’da dafnihi’
    [Al-ghororil Bahiyah Syarhul Bahjatul Wardiyyah 6/164 ]
    1. Bukankah bersedekah kepada tetangga adalah amalan yang baik?
    2. Bukankah menghormati tamu adalah amalan yang baik?
    Apa salahnya?
    MOHON KOREKSI KALAU PEMAHAMAN SAYA KELIRU.
    Saya: LHO INIKAN SUDAH KITA SEPAKATI KHILAF? Kenapa lagi?
    Pemahaman anda insya alloh tidak keliru mas, Cuma alangkah asyiknya andapun membuka celah pemikiran anda untuk sesuatu yang jadi perkhilafan ulama ratusan tahun…Trims…

  14. #64
    Masnun Tholab Indonesia Mozilla Firefox Windows

    @Mas Lasykar :
    Di masyarakat kita, masih banyak kyai-kyai dan ustadz-ustadz yang memojokkan saudara-saudara kita yang tidak menyelenggarakan acara tahlilan kematian, dengan kalimat :
    “Orang mati kok tidak ‘ditahlili’, seperti bangkai hewan saja”.
    Mereka juga menganggap bahwa orang yang tidak mau menyelenggarakan tahlilan kematian sebagai orang yang tidak mau mendo’akan orang tua yang sudah meninggal, bukan anak yang shaleh, tidak mau sedekah (pelit), tidak mau menjalin silaturrahmi dengan para tetangga, anti tahlil, dll.
    Dengan penjelasan anda di atas, semoga ucapan dan anggapan seperti di atas, semakin berkurang, syukur-syukur bisa hilang sama sekali.
    Saya bersyukur dan berterima kasih bisa belajar banyak dari anda. Mudah-mudahan ilmu anda bermanfaat dan akan memperoleh pahala yang terus mengalir sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wata’ala melalui RasulNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
    Semoga Allah Subhanahu wata’ala selalu memberi petunjuk dan bimbingan kepada kita agar termasuk golongan anak yang shaleh, yang setiap amal ibadah dan amal shalehnya selalu mengalirkan pahala kepada kedua orang tua kita, baik ketika mereka hidup maupun setelah mereka meninggal dunia.
    Semoga Allah Subhanahu wata’ala selalu memberi petunjuk dan bimbingan kepada kita agar termasuk orang-orang yang rajin berdo’a, memohon ampunan untuk diri kita dan untuk kedua orang tua kita, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.
    Semoga Allah Subhanahu wata’ala selalu memberi petunjuk dan bimbingan kepada kita agar termasuk orang-orang yang rajin bersedekah, yang bisa memberi manfaat kepada diri kita dan kedua orang tua kita, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.
    Semoga Allah Subhanahu wata’ala melimpahkan berkah dan rahmatNya kepada para ulama yang kita ambil ilmunya.

  15. Amin amin amin yaa mujibassaailien….. makasih juga mas masnun, semoga ini menjadi awal yang baik bagi kita semua,…….

  16. Alhamdulillah…. slesei juga debat yg asyik, elegan dan saling menghormati,.. Salut salut salut… Moga di tiru situs laen. Amien

  17. Sebaik-baik muslim adalah mereka yang selalu terus mengingat akan kematian dan membaca Al-Quran.

  18. Sedekah yang diperuntukkan bagi orang dirundung duka dan ditinggalkan adalah lebih utama

  19. #69
    angahudin Indonesia Opera Windows

    assalamualaikum wb. mantap mas, islam harus rukun walau beda pendapat OK

  20. #70
    bondan perkosa Indonesia Mozilla Firefox Windows

    pahala sedekah dikhususkan pada arwah seseorang yang mati jadi g` da salahnya bahkan itu dianjurkan dan pahala dari bacaan tahlilan juga dikhususkan kpd arwah seseorang yang telah mati jadi kalian yang g` mo tahlilan sangat disayangkan

  21. Mantap…Elegan…Tapi saya memilih meninggalkan tahlilan memperbanyak tahlil…meninggalkan yasinan memperbanyak baca Qur’an…meninggalkan sholawatan memperbanyak sholawat….kenapa eh kenapa????Karena:
    1. Kalau tahlilan itu betul merupakan bid’ah yg diancam neraka oleh Rasulullah, alhamdulillah saya selamat dan tidak perlu capek2 dan berboros2 keluar biaya utk berbuat bid’ah
    2. Kalau seandainya tahlilan itu disunnahkan, saya mohon kepada Allah spy dengan memperbanyak tahlil bisa menyusul pahala dari tahlilan…dan saya juga tdk akan bersedih, karena Rasullullah para sahabat, para tabiin dan tabiut tabiin juga tdk akan mendapatkan pahala tahlilan krn mereka yang mulia itu tidak melakukan tahlilan

  22. @ikhwan

    SETUJUUUUUUUUUUUUUUUU………

  23. Wah saya bener2 dapat ilmu banyak nih disini, saya termasuk orang yang suka menggelar tahlilan, di tempat saya tahlilan (mendo’akan seluruh umat muslim yg hidup / sudah meninggal) juga di laksanakan sebelum adzan jum’at (tanpa menghidangkan makanan).

    Saya juga punya saudara yang tidak menggelar tahlilan, dan saya menghargainya karena pasti itu semua sudah ada dasarnya.

    Terima kasih semuanya atas ilmunya, insya allah bermanfaat.

  24. ketika ibu saya meninggal,kami tidak menyelengarakan tahlilan yg ada hari3,7,10,40,dst tapi kami mendoakan ibu kami tiap hari..karena menurut kami bukankan Rasul pernah ditinggalkan oleh orang2 yang disayangi nya dan Rasul tdk melaksanakan tahlilan,karena kalau sudah ada aturan hari hari pelaksanaan tahlilan seperti 3,7,40,dst itu sudah termasuk bid’ah…masalah bid’ah hanya menyangkut ibadah…bukan barang seperti mobil,motor yg tdk ada pd jaman Rasul…jadi bid’ah itu suatu ibadah yg tidak dicontohkan Rasul,bukankah ALLAH mengutus Rasulullah sebagai contoh yang sempurna

  25. Kyai-kyai di kampung sering mengatakan : Orang yang mati tidak ditahlili, sama seperti bangkai hewan.
    Masya Allah,
    Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika meninggal tidak ditahlili.
    Padahal Abu bakar, Umar, utsman, dan Ali, ketika meninggal tidak ditahlili.
    Apakah hanya karena tidak ditahlili, mereka lantas dianggap sebagai bangkai hewan?
    Astaghfirullahal adziim.
    Allahumma shalli ‘alaa Muhammad.

  26. #76
    Nur Bani Yusuf Indonesia Mozilla Firefox Windows

    Astaghfirulloh hal Adzim……

    berantemnya dengan keluarga sendiri, runtuh hancurlah umat islam…..

  27. Gini aja deh…karena kita ngaku bermazhab Imam Syafi’i, kembalikan aja Apakah Imam Syafi’i melakukan tahlilan???kalau iya, berarti kita yg tahlilan sudah benar dlm bermazhab…krn meniru praktek yg dilakukan Imam Syafi’i….tapi kalau Imam Syafi’i tdk melakukan tahlilan, trus bagi kita yg suka tahlilan ngapain ngaku2 bermazhab Syafi’i???Kira2 kita ridha tdk? kalau ada org2 yg mengaku jadi pengikut kita, pengagum kita, bahkan kemana-mana bawa2 nama kita…tapi perilakunya menyelisihi kita????

  28. Iye, pada brantem sendiri, jgn egois mas. Lihat contoh mas lasykar dan mas masnun, bagus tuh. Kalau pengen debat panas di faithfreedom.org aje, daripada disini sesama muslim.

  29. Masalah khilafiyah, jangan di besar2kan.
    Tahlilan
    talqin
    maulid
    ziaroh
    rejeban
    sya’banan
    yasinan
    dll
    semua itu sudah jadi perselisihan ulama ratusan tahun, sebanyak apapun dalil qur’an hadist atsar dan maqolah ujung2nya tetep khilaf. JANGANLAH PERBEDAAN INI JADI PERPECAHAN, JADIKAN PERBEDAAN INI SESUATU YG INDAH dan menjadi KHAZANAH KEILMUAN ISLAM.

    ISLAM IS A BEAUTIFUL RELEGION,.. Jayalah islam amin3x

  30. Siapa ya yg bilang selametan kematian bukan ratapan?
    Kalau belum tahu, boleh dibaca nih penjelasan para sahabat bahwa selametan kematian itu termasuk kategori ratapan.
    Dari Jarir bin Abdullah Al Bajali ra, dia berkata: “Kami (para sahabat Nabi-pen) memandang berkumpul keluarga mayit dan pembuatan makanan setelah penguburannya termasuk niyahah (meratap). (HR. Ahmad dan ini lafazhnya, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh An Nawawi, Al Bushiri, dan Al Albani)
    Dari Thalhah: “Sahabat Jarir mendatangi sahabat Umar, Umar berkata: Apakah kamu sekalian suka meratapi mayat? Jarir menjawab: Tidak, Umar berkata: Apakah di antara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan memakan hidangannya? Jarir menjawab: Ya, Umar berkata: Hal itu sama dengan meratap (niyahah)”. (al-Mashnaf Ibnu Abi Syaibah (Riyad: Maktabah al-Rasyad, 1409), juz II hal 487)
    Jarir ra pernah bertamu kepada Umar ra. Lalu Umar bertanya, ” Apakah mayit kamu diratapi ?” Jawab Jarir, ” Tidak !” Umar bertanya lagi, ” Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, ” Ya !” Berkata Umar, ” Itulah ratapan (niyahah) !” (Al Mughni karya Ibnu Qudamah, Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki)
    Dari Sa’id bin Jabir dan dari Khaban al-Bukhtary, kemudian dikeluarkan pula oleh Abdul Razaq: “Merupakan perbuatan orang-orang jahiliyyah niyahah, hidangan dari keluarga mayit, dan menginapnya para wanita di rumah keluarga mayit”. (al-Mashnaf Abdul Razaq al-Shan’any (Beirut: al-Maktab al- Islamy, 1403) juz III, hal 550. dikeluarkan pula oleh Ibn Abi Syaibah dengan lafazh berbeda melalui sanad Fudhalah bin Hashin, Abdul Karim, Sa’id bin Jabir)

  31. ( ) Ulasan tentang Ma’tam: Yang terjadi di masyarakat tahlilan bisa menghibur keluarga mayit dengan bacaan Qur’an, tahlil, tasbih, tahmid, berkumpulnya sanak-keluarga-tetangga, Imam Syafii menjelaskan pengertian Ma’tam dalam Al Umm Juz 1 hal: 248 Sebagai Berikut:
    الأم الجزء الأول ص: 248
    (قَالَ الشَّافِعِيُّ): إلى أن قال… وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ, وَهِيَ الْجَمَاعَةُ, وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ, وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مَعَ مَا مَضَى فِيهِ مِنْ الْأَثَرِ (قُتِلَ)
    Artinya: “(Telah berkata Imam Syafi’i)… “aku menghukumi makruh Ma’tam, dan yakni sebuah kelompok, dan walaupun tidak ada tangisan bagi mereka sebab sesungguhnya itu memperbaharui kesedihan dan membebani biayai beserta apa yang pernah terjadi (dibunuh:misal)”.
    Dalam kitab Majmu’ Syarkh Muhadzab beliau Imam Nawawi menafsiri Qoul Imam Syafi’i sebagai berikut:
    المجموع شرخ المهذب الجزء الخامس ص: 280
    وَأَمَّا قَوْلُ الشَّافِعِيِّ رحمه الله فِي الْأُمِّ: وَأَكْرَهُ الْمَآتِمَ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ, فَمُرَادُهُ الْجُلُوسُ لِلتَّعْزِيَةِ وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُهُ.
    Artinya: “Maksud dari Qoul Imam Syafi’I dalam kitab Al Umm: aku menghukumi makruh Ma’tam, dan yakni sebuah kelompok, dan walaupun tidak ada tangisan. Adalah Duduk (berlama-lama dan berkumpul) pada waktu Ta’ziah (melayat setelah mayit di kubur), dan keterangannya telah lampau”.
    Assyaikh Musthofa Ar Rohibani Al Hambali, dalam kitab Matholibu Ulin Nuha Juz 5 hal: 235 menyitir pendapat Shohibul Nihayah sebagai berikut.
    مطالب أولي النهى الجزء الخامس ص: 235 للشيخ مصطفى الرحيباني الحنبلي
    قَالَ فِي النِّهَايَةِ: الْمَأْتَمُ فِي الْأَصْلِ مُجْتَمَعُ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فِي الْغَمِّ وَالْفَرَحِ, ثُمَّ خُصَّ بِهِ اجْتِمَاعُ النِّسَاءِ فِي الْمَوْتِ, وَقِيلَ: هُوَ لِلشَّوَابِّ مِنْهُنَّ لَا غَيْرُ.
    Artinya: “Ma’tam Asalnya (dipergunakan untuk istilah) berkumpulnya laki-laki perempuan pada waktu susah atau senang, kemudian di khususkan dengan berkumpulnya wanita pada waktu kematian, dan menurut sebagian pendapat: ma’tam (dipergunakan untuk istilah berkumpul) bagi perempuan muda saja.”
    Kesimpulannya: kalau melihat pengertian yang ada, ma’tam bukanlah tahlilan, karena:
    1. Ma’tam adalah Duduk (berlama-lama), berkumpul pada waktu ta’ziah (melayat). Sedangkan hukum takziah sebelum mayit dimakamkan dan setelah dimakamkan sampai tiga hari adalah sunnah (dengan catatan tidak duduk/berlama-lama seperti ma’tam) lihat Fathul Qorib hal: 22
    2. Tahlilan kebanyakan dilakukan para lelaki, malah jarang sekali dilakukan perempuan.
    Namun apabila ada sebagian Aliran yang bersikeras mengatakan tahlilan adalah ma’tam, maka perlu diketahui dalam Qoul imam syafii ada dua point penting:
    1. Ma’tam mempunyai hukum makruh, yang dalam kitab fiqhul Islami Makruh didevinisikan sebagai berikut:
    الفقه الإسلامي الجزء الأول ص: 51
    والمكروه عند غير الحنفية نوع واحد: وهو ماطلب الشرع تركه لا على وجه الحتم والإلزام، وحكمه: أنه يمدح ويثاب تاركه، ولا يذم ولا يعاقب فاعله.
    Artinya: “Makruh menurut selain Ulama madzhab hanafiyyah (yakni makruh menurut Ulama madzhab Syafii’i, Maliki, Hambali) mempunyai satu pengertian: Perbuatan yang ada tuntutan (dari) syariat untuk meninggalkannya, tapi bukan merupakan kewajiban dan keharusan (untuk meninggalkan), sedangkan hukum makruh: Orang yang meninggalkan (perbuatan tersebut) di puji dan di beri pahala, dan orang yang melakukan tidak dicaci dan di siksa.”
    2. Dan dalam Qoul Imam Syafi’i ada alasan (ilat, berupa: memperbaharui kesedihan dan membebani biayai) yang mejadikan makruh, namun apabila alasan itu tidak ada, niscaya hukum makruh akan hilang sesuai kaidah fiqh:
    ملخص القواعد الفقهية الجزء الأول ص: 5
    القاعدة الثانية والعشرون (الحكم يدور مع علته وجوداً وعدماً)
    الخمر محرم لأنه مسكر، فإذا وجد الإسكار وجد التحريم من أي نوع كانت مادته. وإذا عدم الإسكار عدم التحريم، لأن الحكم يدور مع علته وجوداً وعدماً.
    Artinya: “Kaidah 22 (Hukum berporos/tergantung ada atau tidak adanya ilat/alasan), misal: Arak diharamkan karena ada ilat memabukkan, apabila ditemukan unsur memabukkan maka ditemukan hukum haram dipandang dari segala sisi, dan apabila tidak ditemukan unsur memabukkan maka hukum haram di hilangkan, karena Hukum berporos (tergantung) ada atau tidak adanya ilat/alasan”.

    Ulasan tentang Ittikhodzu dziafah Min Ahlil Mayyit: Dalam kitab I’anatuttholibien karangan Syaikh Abu Bakar Assatho terdapat keterangan sebagai berikut:
    إعانة الطالبين – (ج 2 / ص 164)
    (خاتمة) نسأل الله حسن الختام – تسن تعزية المصاب، لما أخرجه الترمذي عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من عزى مصابا فله مثل أجره. إلى أن قال… ويكره لاهل الميت الجلوس للتعزية، وصنع طعام يجمعون الناس عليه، لما روى أحمد عن جرير بن عبد الله البجلي، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة، ويستحب لجيران أهل الميت – ولو أجانب – ومعارفهم – وإن لم يكونوا جيرانا – وأقاربه الاباعد – وإن كانوا بغير بلد الميت – أن يصنعوا لاهله طعاما يكفيهم يوما وليلة، وأن يلحوا عليهم في الاكل. ويحرم صنعه للنائحة، لانه إعانة على معصية. وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام. وجواب منهم لذلك.إلى أن قال… قال في (رد المحتار تحت قول الدار المختار) ما نصه: قال في الفتح: ويستحب لجيران أهل الميت، والاقرباء الاباعد، تهيئة طعام لهم يشبعهم يومهم وليلتهم، لقوله صلى الله عليه وسلم: اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم ما يشغلهم. حسنه الترمذي، وصححه الحاكم. ولانه بر ومعروف، ويلح عليهم في الاكل، لان الحزن يمنعهم من ذلك، فيضعفون حينئذ. وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت، لانه شرع في السرور، وهي بدعة. روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة.اه. وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم إلخ. وتمامه فيه، فمن شاء فليراجع. والله سبحانه وتعالى أعلم. كتبه خادم الشريعة والمنهاج: عبد الرحمن بن عبد الله سراج، الحنفي، مفتي مكة المكرمة – كان الله لهما حامدا مصليا مسلما. وقد أجاب بنظير هذين الجوابين مفتي السادة المالكية، ومفتي السادة الحنابلة.
    Inti ibarat di I’anatuttholibien: Ittikhodzu dziafah Min Ahlil Mayyit (memberikan makanan dari ahli mayit) ternyata merupakan pengembangan dari pengertian Ma’tam Imam Syafi’i yakni: Makruh duduk berlama-lama untuk ta’ziah dan membuat makanan agar manusia berkumpul, Sehingga Imam Ibnu Abidin Al Hanafi dalam kitab Roddul Mukhtar berkomentar: ”Di makruhkan perjamuan makanan dari keluarga mayit, karena perjamuan makanan biasanya dilakukan pada waktu senang (tidak dilakukan pada waktu susah:lihat teks asli dalam kitab roddul Mukhtar juz 2 hal: 240), oleh karena itu dikategorikan bid’ah”… Dan dalam kitab Albazaziy: “Dimakruhkan perjamuan makanan di hari pertama, ketiga dan setelah seminggu dan memindah makanan kekuburan pada sebagian musim…”. JADI APABILA TAHLILAN TETAP MEREKA PAKSAKAN BAGIAN DARI Ittikhodzu dziafah Min Ahlil Mayyit HUKUM YANG TIMBUL ADALAH MAKRUH BUKAN HARAM. Malah dalam syarah Ibnu Majah suatu tempo jamuan makan dari ahli mayit tidak apa-apa apabila diperuntukkan untuk Fakir-Miskin, sebagai berikut:
    شرح سنن ابن ماجه – (ج 1 / ص 116)
    وأما صنعة الطعام من أهل الميت إذا كان للفقراء فلا بأس به لأن النبي صلى الله عليه و سلم قبل دعوة المرأة التي مات زوجها كما في سنن أبي داود وأما إذا كان للأغنياء والاضياف فمنوع ومكروه لحديث أحمد وابن ماجة في الباب الاتي كنا نرى الاجتماع وصنعة الطعام من أهل الميت من النياحة أي نعد وزره كوزر النوح إنجاح
    Artinya: “Namun bila membuat makanan dari keluarga mayyit, bila untuk para fuqara maka diperbolehkan, karena Nabi saw menerima undangan wanita yg wafat suaminya sebagaimana diriwayatkan pada sunan Abi dawud, namun bila untuk orang orang kaya dan perjamuan maka terlarang dan Makruh sebagaimana hadits riwayat Ahmad dan Ibn Majah”.

    Dan Imam Zaila’i dalam syarah Al Misykaah mengatakan: “Tidak apa-apa duduk-duduk untuk musibah sampai hari ketiga tanpa melakukan perbuatan yang di larang, (baik duduk) dengan membeber alas, sedangkan makanan diambil dari ahli mayit”, pendapat beliau ini timbul dari perselisihan peletakan dlomir lafadz imroah pada hadist yang diriwayatkan Imam Abu dawud, sebagaimana keterangan dibawah ini:
    سنن أبي داود – ج 2 / ص 263
    حدثنا محمد بن العلاء أخبرنا ابن إدريس أخبرنا عاصم بن كليب عن أبيه عن رجل من الأنصار قال: خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم في جنازة فرأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو على القبر يوصي الحافر ” أوسع من قبل رجليه أوسع من قبل رأسه ” فلما رجع استقبله داعي امرأة فجاء وجيء بالطعام فوضع يده ثم وضع القوم فأكلوا…
    Artinya: Dari Ashim bin Kulaib, dari ِAyahnya, dari laki-laki kaum Anshor, beliau berkata: “Kami keluar bersama Rosululloh SAW. dalam suatu (penguburan) jenazah, lalu kulihat Rosululloh SAW. (berdiri) diatas kuburan dan berwasiat (memerintahkan) pada penggali kubur”: “lebarkanlah dari arah kaki dan dari arah kepala”, ketika Nabi kembali (selesai), maka datanglah utusan SEORANG PEREMPUAN, (mengundang Nabi SAW. untuk bertandang kerumahnya), kemudian Rosululloh SAW.menerima undangannya (dan kami bersamanya), lalu dihidangkan makanan, lalu Rosululloh SAW.menaruh tangan beliau (di makanan itu) kemudian kamipun menaruh tangan kami dimakanan itu lalu kesemuanyapun makan….dst.”
    (HR. Abu Dawud no. 3332)
    Perhatikan ! SEORANG PEREMPUAN, bukan ISTRI ALMARHUM.

    Namun dalam redaksi lain dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi disebutkan:
    تحفة الأحوذي الجزء الرابع ص: 67
    حديث عاصم بن كليب الذي رواه أبو داود في سننه بسند صحيح عنه عن أبيه عن رجل من الأنصار قال خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في جنازة فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على القبر يوصي لحافرا أوسع من قبل رجليه أوسع من قبل رأسه فلما رجع استقبله داعي امرأته فأجاب ونحن معه فجيء بالطعام فوضع يده ثم وضع القوم فأكلوا الحديث رواه أبو داود والبيهقي في دلائل النبوة هكذا في المشكاة في باب المعجزات فقوله فلما رجع استقبله داعي امرأته الخ نص صريح في أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أجاب دعوة أهل البيت واجتمع هو وأصحابه بعد دفنه وأكلوا….
    Artinya: “Hadits riwayat Sahabat Ashim bin Kulaib RA. yg diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam sunannya dengan sanad shahih, dari ayahnya, dari seorang lelaki anshar, berkata : Dari Ashim bin Kulaib, dari ِAyahnya, dari laki-laki kaum Anshor, beliau berkata: “Kami keluar bersama Rosululloh SAW. dalam suatu (penguburan) jenazah, lalu kulihat Rosululloh SAW. (berdiri) diatas kuburan dan berwasiat (memerintahkan) pada penggali kubur”: “lebarkanlah dari arah kaki dan dari arah kepala”, ketika Nabi kembali (selesai), maka datanglah utusan ISTRI ALMARHUM, (mengundang Nabi SAW. untuk bertandang kerumahnya), kemudian Rosululloh SAW.menerima undangannya (dan kami bersamanya), lalu dihidangkan makanan, lalu Rosululloh SAW.menaruh tangan beliau (di makanan itu) kemudian kamipun menaruh tangan kami dimakanan itu lalu kesemuanyapun makan. Hadist Riwayat Imam Abu Dawud dan Baihaqi dalam Dalail Nubuwwah, demikian pula diriwayatkan dalam AL Misykaah, di Bab Mukjizat, dikatakan bahwa KETIKA BELIAU SAW. AKAN PULANG MAKA DATANGLAH UTUSAN ISTRI ALMARHUM.. dan hal ini merupakan Nash yg jelas bahwa Rasulullah SAW. mendatangi undangan keluarga duka, dan berkumpul bersama sahabat beliau saw setelah penguburan dan makan”.
    (Tuhfatul Ahwadziy Juz 4 hal 67).
    Perhatikan ! ISTRI ALMARHUM, bukan SEORANG PEREMPUAN.

    Lafadz Imroah pun di perselishkan dalam kitab Aunul Ma’bud, sebagai berikut:
    عون المعبود – ج 7 / ص 315
    (دَاعِي اِمْرَأَة) :كَذَا فِي النُّسَخ الْحَاضِرَة وَفِي الْمِشْكَاة دَاعِي اِمْرَأَته بِالْإِضَافَةِ إِلَى الضَّمِير قَالَ الْقَارِيّ أَيْ زَوْجَة الْمُتَوَفَّى.
    Artinya: “(داعي امرأة). Demikianlah yang terdapat dalam naskah-naskah sekarang. Dalam Al-Misykaah disebutkan, redaksi (داعي امرأته) dengan penyandaran (idzofah) pada dlomir, Imam Al Qoori berkata: (yang di kehendaki dlomir tersebut) adalah istri Almarhum.

    Dan diperkuat oleh khilaf yang dilontarkan Imam Zaila’i dalam Syarah Al Miskaah, sebagai berikut:
    مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح – (ج 17 / ص 214(
    وفي المعجزات عن أبيه لم يذكره المؤلف في أسمائه عن رجل من الأنصار قال خرجنا مع رسول الله في جنازة بكسر الجيم وفتحها فرأيت رسول الله وهو على القبر أي طرفه والجملة حال يوصي الحافر بتخفيف الصاد وتشدد حال أخرى يقول بيان أو بدل أوسع أمر مخاطب للحافر من قبل رجليه بكسر القاف وفتح الباء أي من جانبهما أوسع من قبل رأسه فلما رجع أي عن المقبرة استقبله داعي امرأته أي زوجة المتوفي فأجاب ونحن معه فجيء بالطعام فوضع يده أي فيه ثم وضع القوم أي أيديهم فأكلوا هذا الحديث بظاهره يرد على ما قرره أصحاب مذهبنا من أنه يكره اتخاذ الطعام في اليوم الأول أو الثالث أو بعد الأسبوع كما في البزازية وذكر في الخلاصة أنه لا يباح اتخاذ الضيافة عند ثلاثة أيام وقال الزيلعي ولا بأس بالجلوس للمصيبة إلى ثلاث من غير ارتكاب محظور من فرش البسط والأطعمة من أهل الميت وقال ابن الهمام يكره اتخاذ الضيافة من أهل الميت والكل عللوه بأنه شرع في السرور لا في الشرور قال وهي بدعة مستقبحة روى الإمام أحمد وابن حبان بإسناد صحيح عن جرير بن عبد الله قال كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنيعهم الطعام من النياحة انتهى فينبغي أن يقيد كلامهم بنوع خاص من اجتماع يوجب استحياء أهل بيت الميت فيطعمونهم كرها أو يحمل على كون بعض الورثة
    Artinya: “…Hadist ini dengan memandang dzohirnya, memberikan kesimpulan seperti para sahabat madzhab kita, yakni dimakruhkan perjamuan makanan pada hari pertama atau ketiga atau setelah seminggu seperti dalam kitab Bazaziyah, dan dijelaskan dalam kitab Khulasoh bahwa tidak diperbolehkan mengambil suguhan pada hari ketiga, Imam Zayla’I berkata: “Tidak apa2 duduk duduk untuk musibah sampai hari ketiga tanpa melakukan perbuatan yang di larang, (baik duduk) dengan membeber alas, sedangkan makanan diambil dari ahli mayit”……dst.

    KESIMPULAN:
    1. kesimpulan dari kitab Ianatuttholibien, Syarah Sunan Ibnu Majah, Sunan Abi Dawud, Tuhfatul Ahwadzi, Aunul Ma’bud dan Syarah Al Misykaah TERJADI KHILAF.
    2. Yakni, Ittikhodzu dziafah Min Ahlil Mayyit ada dua Qoul secara keumuman, yakni makruh dan tidak.
    3. Terbukti dari statement Imam Zaila’i.
    4. Dan praktek yang terjadi dimasyarakat, seperti di Daerah kita (Tanjunganom nganjuk jawa timur) setiap ada orang yang meninggal pasti tetangga berduyun-duyun membawa sembako, bahkan terkadang aqua pun yang membelikan adalah tetangga, jadi yang menyediakan hidangan makanan hakikatnya adalah orang luar (bukan keluarga mayit), namun setiap daerah pasti punya adat berbeda.
    5. Sehingga punya kesimpulan terakhir:
    – Kalau orang lain membuatkan makanan maka sunnah,
    – Kalau ahli mayit membuatkan makanan maka terjadi khilaf (makruh atau tidak).

  32. Tolonglah mas, semua itu khilafiyah, janganlah kita perdebatkan, karena tetep khilaf. Dan tolong kalau mengartikan suatu ibarat, apalagi hadist disertakan arabnya ples di lihat asbabul wurud. Kita saling menghormati saja. Insya alloh kamipun juga punya dasar. Dan kamipun tidak berani mengatakan pasti benar dan PASTI MASUK SYURGA, itu semua bi idzillah wa bi’aunilkah

  33. Wa bi’aunillah wa bisyafa’ati rosulillah shollallohu alaihi wasallam…

  34. TAHLILAN KEMATIAN TERUS DIGELORAKAN GAUNGNYA OLEH PARA KYAI DI KAMPUNG-KAMPUNG, SEHINGGA ORANG AWAM MEMANDANGNYA SEBAGAI IBADAH YANG WAJIB. BAHKAN BANYAK ORANG-ORANG YANG BEGITU ENTENG MENINGGALKAN SHALAT FARDHU DAN PUASA RAMADHAN, TAPI TIDAK BERANI MENINGGALKAN KEGIATAN TAHLILAN KEMATIAN. MEREKA MENGANGGAP BAHWA TAHLILAN KEMATIAN ‘LEBIH WAJIB’ DARIPADA SALAT FARDHU DAN PUASA RAMADHAN.

    INIKAH YANG DINAMAKAN KEBERHASILAN DAKWAH?

  35. Apa yg dikatakan oleh Mas Prapto sangat benar sekali. Di daerahku, Pacitan, tahlilan biasanya diadakan habis Maghrib atau Isyak. Banyak laki-laki yg rajin datang tahlilan, tetapi sholat berjamaah di masjid cukup sepi. Jika tahlilan diadakan habis Maghrib, sampai menerjang adzan Isyak, mereka lebih memilih makan-makan daripada mendatangi panggilan adzan Isyak. Padahal sholat berjamaah di masjid itu ada perintahnya dari Rasulullah, sedangkan tahlilan tidak ada.

  36. Mas Prapto: TAHLILAN KEMATIAN TERUS DIGELORAKAN GAUNGNYA OLEH PARA KYAI DI KAMPUNG-KAMPUNG, SEHINGGA ORANG AWAM MEMANDANGNYA SEBAGAI IBADAH YANG WAJIB.
    Saya: Mas ini statement dari mana? Data dari mana? Dan dapat di pertanggung jawabkan apa tidak? Tolong kalau kasih info yang sesuai dengan realita yang ada? Dan ingatlah bahwa yang mengatakan orang yang tidak di tahlili seperti bangkai hewan? Itupun data dari mana? Apa Cuma katanya? Tolong mas ini masalah hukum. Di jawab dari hati, kalau memang khilafiyyah apakah kita yang punya keilmuan sedikit ini berani mengatakan, siapapun ulama itu? Apakah hanya alqur’an dan hadist saja yang bisa mencetuskan hukum? Tanpa memandang qiyas? Ijma’? DAN KALAU CUMA DARI QUR’AN DAN HADIST, TOLONG ANDA SEBUTKAN HUKUM MEROKOK DENGAN HADIST YANG SHOHIH (bukan yang lain), ATAU QUR’AN. Satu pertanyaan ini saja. Saya akan angkat topi untuk anda.
    Mas prapto: BAHKAN BANYAK ORANG-ORANG YANG BEGITU ENTENG MENINGGALKAN SHALAT FARDHU DAN PUASA RAMADHAN, TAPI TIDAK BERANI MENINGGALKAN KEGIATAN TAHLILAN KEMATIAN. MEREKA MENGANGGAP BAHWA TAHLILAN KEMATIAN ‘LEBIH WAJIB’ DARIPADA SALAT FARDHU DAN PUASA RAMADHAN.
    Saya: mas mas… lagi-lagi data darimana lagi ini, ingatlah mas. Kalau memang mas tidak menyukai tahlilan pun kami tidak akan menyalahkan anda, namun perlu di ingat. Apakah dalil yang anda punya hanya berkisar pada pengembangan hadist
    وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا خَطَبَ, احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ, وَعَلَا صَوْتُهُ, وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ, حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ, وَيَقُولُ: “أَمَّا بَعْدُ, فَإِنَّ خَيْرَ اَلْحَدِيثِ كِتَابُ اَللَّهِ, وَخَيْرَ اَلْهَدْيِ هَدْي مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ اَلْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا،(2) وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
    Artinya: Dari (Sahabat) Jabir bin Abdillah RA. Beliau berkata: “Pada waktu khutbah (jumat) kedua mata Rosululloh SAW memerah, suara beliau meninggi, dan sangat marah seakan-akan beliau sedang mengingatkan (mengomando barisan) tentara”, dengan bersabda”: “(Wahai kalian) yang datang pagi (pemuda) atau sore (orang tua)”, dan Beliau bersabda: “Amma Ba’du, maka sesungguhnya sebaik-baiknya perkara yang baru adalah kitabulloh (al Qur’an), sesungguhnya sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk (Nabi) Muhammad, sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara baru dan sesungguhnya semua bid’ah (hal yang baru) itu sesat”.
    Kalautoh hanya ini dan sejenisnya, dan kalau anda tetap berpegang Imam Ibnu Taimiyah pun akan tetap ditentang oleh mayoritas ulama’. Dan yang terdepan adalah imam syafi’i. TOLONGLAH LIHAT MILIS-MILIS DI SEKITAR ANDA YANG MEMBAHAS TENTANG HAL ITU PASTI TIDAK ADA HABISNYA. SARAN SAYA COBALAH ANDA MENERIMA PERBEDAAN YANG ADA, DAN JANGAN MENGUSIK ORANG YANG PUNYA DASAR.
    Mas prapto: INIKAH YANG DINAMAKAN KEBERHASILAN DAKWAH?
    Saya: coba mas prapto buka sejarah islam di Indonesia, dan sejarah pengembangan wahabiyyah dan salaifyyah di Saudi Arabia SERTA BANDINGKAN. DAN SAYA AKAN MENJAGA TULISAN SAYA AGAR TIDAK MENYINGGUNG ANDA DENGAN TIDAK MENAMPILKAN KEBURUKAN MUNCULNYA WAHABIYYAH

  37. Anonim: Apa yg dikatakan oleh Mas Prapto sangat benar sekali. Di daerahku, Pacitan, tahlilan biasanya diadakan habis Maghrib atau Isyak. Banyak laki-laki yg rajin datang tahlilan, tetapi sholat berjamaah di masjid cukup sepi.
    Saya: Mas apakah masalah yang kasuistik bisa di jadikan pedoman hukum? Dengan melarang tahlilan keseluruhan. Tolong mas simak jawaban Imam Ibnu hajar di bawah ini tentang di perbolehkannya ziarah kubur TOLONG DITELITI DENGAN SEKSAMA KHILAFIYYAH INI:
    الفتاوى الكبرى الجزء الثانى ص : 24
    (وسئل)  عن زيارة قبور الأولياء في زمن معين مع الرحلة إليها هل يجوز مع أنه يجتمع عند تلك القبور مفاسد كثيرة كاختلاط النساء بالرجال وإسراج السرج الكثيرة وغير ذلك ؟ (فأجاب) بقوله زيارة قبور الأولياء قربة مستحبة وكذا الرحلة إليها إلى أن قال… ومن أطلق المنع من الزيارة خوف ذلك الاختلاط يلزمه إطلاق منع نحو الطواف والرمل بل والوقوف بعرفة أو مزدلفة والرمي إذا خشي الاختلاط أو نحوه فلما لم يمنع الأئمة شيئا من ذلك مع أن فيه اختلاطا أي اختلاط وإنما منعوا نفس الاختلاط لا غير فكذلك هنا إلح
    Artinya: “(Syekh ibnu Hajar RA.) ditanyai masalah masalah ziaroh kubur para wali, di waktu tertentu bersama rombongan. Apakah hal tersebut boleh? Padahal banyak terjadi mafaasid (perbuatan yang tdak diperbolehkan agama) seperti: bercampurnya laki-laki perempuan (yang bukan mahrom), menyalakan lampu yang banyak (tanpa faidah) dan lain sebagainya.
    (Maka beliau syekh menjawab:) dengan perkataan beliau: ZIARAH KUBUR KE WALI-WALI ALLOH ADALAH IBADAH YANG DI SUNNAHKAN, BEGITU PULA ROMBONGAN ZIARAH KE WALI-WALI ALLOH…sampai perkataan… Adapun ulama yang memutlakkan larangan ziarah kubur karena takut terjadinya percampuran laki-laki dan perempuan, maka mestinya mereka juga memutlakkan larangan (dalam kasus) seperti thowaf, romlu/sa’i, wukuf di Arafah atau di Muzdalifah dan melempar jumroh, apabila takut terjadinya percampuran antara lelaki dan perempuan atau semacamnya, (oleh karena itu) para Imam-Imam tidak melarang semua itu, padahal jelas terjadi percampuran lelaki-perempuan, dan hanya melarang praktek tercampurnya lelaki-perempuan saja (bukan melarang thowaf, sa’i dll. secara mutlak), maka mestinya begitu pula dalam masalah ini (ziarah kubur Wali-wali Alloh)”

    APAKAH ANDA AKAN MELARANG SA’I? YANG MANA JELAS TERJADI MUKHARROMAT. MAS TAHLILAN ITU BAIK, KIRIM PAHALA ITU BAIK, KARENA TAHLILAN MAJLIS DZIKIR. TOLONG CERMATI HADIST NABI BERIKUT:
    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أخبرنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ أخبرنا سُفْيَانُ عَنْ أَبِى إِسْحَاقَ عَنِ الأَغَرِّ أَبِى مُسْلِمٍ أَنَّهُ شَهِدَ عَلَى أَبِى هُرَيْرَةَ وَأَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ «(6) مَا مِنْ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ حَفَّتْ بِهِمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ». هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

    Artinya: Sahabat Abi Hurairoh RA., dan Sahabat Abi Said Al Khudriyyi RA,. bersaksi bahwa Rosululloh SAW. bersabda: ”Tiadalah dari sekumpulan manusia yang melakukan dzikir kepada Alloh, kecuali malaikat mengelilingi mereka, memberikan rahmat, ketenangan hati menyelimuti mereka dan Alloh menuturkan (keberadaan) mereka ke mahluk yang di sampingNYA”

    Anonym: Jika tahlilan diadakan habis Maghrib, sampai menerjang adzan Isyak, mereka lebih memilih makan-makan daripada mendatangi panggilan adzan Isyak. Padahal sholat berjamaah di masjid itu ada perintahnya dari Rasulullah, sedangkan tahlilan tidak ada.
    Saya: kasuistik mas… kasuistik mas…. Jangan dipukul rata nanti anda akan repot sendiri, saya kasih contoh. Tolong anda teliti qur’an dan hadist:
    1. Majlis takrim
    2. Tahajjud berjamaah.
    3. Kuliah tujuh menit.
    4. Haul imam utsaimin
    5. Pembangunan masjidil harom
    6. Pembongkaran makbaroh nabi
    Saya tidak akan mengusik hal itu, dan mungkin andapun akan kesulitan menemukan dasar qur’an hadistnya. Tapi apakah saya mengatakan anda salah? Tidak mas!! Karena itupun MASUK DALAM RANAH KHILAFIYYAH DAN IJTIHAD PARA ULAMA YANG DIKATAKAN IJMA’ DAN QIYAS. Saya katakana TAHLIL ADALAH MAJLIS DZIKIR KARENA SESUAI DENGAN HADIST NABI DIATAS

    • Seputar haul Imam Utsaimin, saya ada beberapa pertanyaan nih buat Aki Lasykar, soalnya saya ketinggalan berita, mungkin Aki Lasykar pernah ikut menghadiri acara tersebut:
      1. Diselenggarakan di negara mana ya, Arab Saudi atau Mesir? Yang menyelenggarakan pemerintah Saudi atau Mesir?
      2. Isi acaranya apa ya, menggelar tahlilan mengirim pahala doa/dzikir bareng2 untuk Syaikh Utsaimin ataukah acara pemberian penghargaan dari Pemerintah Mesir kepada Syaikh Utsaimin atas semua jasa2nya?
      3. Acaranya dilakukan rutin setiap tahun sekali, 2 tahun sekali, 3 tahun sekali, dst ataukah cuma 1 kali saja.
      Kalau ketiga pertanyaan di atas telah terjawab, Aki Lasykar bisa menyimpulkan: sama/tidakkah dengan acara haul yg ada di Indonesia? Terima kasih atas jawabannya.

  38. DAN MARI KITA BERDISKUSI DENGAN KEPALA DINGIN, KITA KUPAS SEDIKIT DEMI SEDIKIT TENTANG PERMASALAHAN TAHLIL DAN AGAR LEBIH TERARAH TOLONG DI SERTAKAN DASAR SERTA JANGAN LUPA ARABNYA DI TULIS, HALAMAN SERTA CETAKAN KITAB TERSEBUT, INSYA ALLOH AKAN LEBIH MENGENA DAN MUDAH MUDAHAN INI BUKAN MERUPAKAN SEBUAH DEBAT KUSIR. DAN MUDAH MUDAHAN KITA TIDAK TERMASUK DALAM SABDA NABI TENTANG LARANGAN DEBAT KUSIR:
    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم-“ذَرُوا الْمِرَاءَ، فَإِنَّ بني إِسْرَائِيلَ افْتَرَقُوا عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَالنَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهُمْ عَلَى الضَّلالَةِ إِلا السَّوَادَ الأَعْظَمَ”، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنِ السَّوَادُ الأَعْظَمُ؟ قَالَ:”مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ، وَأَصْحَابِي مَنْ لَمْ يُمَارِ فِي دِينِ اللَّهِ، وَمَنْ لَمْ يُكَفِّرْ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ بِذَنْبٍ غُفِرَ لَهُ”.

    Artinya: -Rosululloh SAW. bersabda-: “Jauhilah perdebatan (yang tidak sesuai Syariat), karena Bani Isroil terpecah menjadi 71 golongan, dan Nasrani (terpecah) menjadi 72 golongan, semuanya tersesat kecuali GOLONGAN BESAR”. Para Sahabat bertanya: “Wahai Rosululloh, Siapakah GOLONGAN BESAR itu?”. Nabi SAW. bersabda: “Adalah mereka yang mengikuti sesuai apa yang ada padaku (Aku contohkan) dan para sahabatKU, orang yang tidak berdebat (yang tidak sesuai syariat) didalam urusan agama, dan orang yang tidak mengkafirkan orang lain dari ahli tauhid dengan dosa yang masih diampuni”.

  39. LIHAT KETERANGAN LEBIH LUAS TENTANG MASALAH DEBAT KUSIR DAN MAJLIS DZIKIR DALAM:
    سنن الترمذي الجزء الخامس ص: 128 طه فوتر
    المعجم الكبير للطبراني – (ج 7 / ص 164)

    WALLOHU A’LAM BISSOWAB

  40. hehehehe aki simak sangat menarik tpi aki nitip jangan sampai ada perkataan yg kurang baik yaaah ,perbadaan itu indah kan dalam islam inti nya kita kan pengen masuk ke surga itu kan.? jalan mana lewat mana yg penting kita bisa masuk ke sana, .heheheh maaf sy sangat awam tentang ini ……….

  41. Hehehehe betul juga mas aki, islam itu indah, akankah keindahan itu akan kita rusak ? Bukankan non muslim akan bergembira ria? Doakan aja, mudah2an diskusi ini bisa melapangkan hati semua pihak. Dan menjadikan kita manusia yang berakhlaq indah ditengah perbedaan yang mendera. Salam hangat dari santri nganjuk

  42. MANTAB KAU LASKAR…..
    IYA GETU DONK, ISLAM DEBAT YANG OKEH, YANG LEMBUT YANG CAEM, JANGAN MAEN ANTEM AJE DAN JANGAN CUMAN MAEN KATA-KATA AJA, AYE ORANG AWAM YANG JADI JURINYE, MANE YANG ILMIAH DAN RETORIKA, AKHIRNYE KELIATAN DEH ILMUNYE. HE3X ASEK ASEK ASEK

  43. Salam hangat juga mas paijo, mudah-mudahan ini jadi pembelajaran bagi kita semua tentang indahnya sebuah perbedaan, saya teringat dalam permasalahan yang mungkin dalam madzhab syafi’I sulit, kitapun bisa berpindah madzhab ke madzhab lain, dan itupun telah dilakukan ulama alimin amilin beratus tahun yang lalu, dan beliau-beliaupun sangat menghormati satu dan lainnya, walaupun mungkin dalam bahasa tulisan dalam kitab ada sedikit yang keras, namun saya yakin semua itu karena kecintaan pada agama islam, coba kita renungkan ungkapan imam almunawi dalam faidlul qodirnya:
    فيض القدير – (ج 1 / ص: 271)
    وقد انتقل جماعة من المذاهب الأربعة من مذهبه لغيره منهم عبد العزيز بن عمران كان مالكيا فلما قدم الإمام الشافعي رحمه الله تعالى مصر تفقه عليه وأبو ثور من مذهب الحنفي إلى ذهب الشافعي وابن عبد الحكم من مذهب مالك إلى الشافعي ثم عاد وأبو جعفر بن نصر من الحنبلي إلى الشافعي والطحاوي من الشافعي إلى الحنفي والإمام السمعاني من الحنفي إلى الشافعي والخطيب البغدادي والآمدي وابن برهان من الحنبلي إلى الشافعي وابن فارس صاحب المجمل من الشافعي إلى المالكي وابن الدهان من الحنبلي للحنفي ثم تحول شافعيا وابن دقيق العيد من المالكي للشافعي وأبو حيان من الظاهري للشافعي ذكره الأسنوي وغيره.
    Artinya:
    Dan banyak sekali Ulama dari golongan Madzab empat berpindah dari Madzhabnya ke Madzhab lain, seperti Imam Abdul Aziz bin Imron bermadzhab Maliki, waktu Imam Syafi’I -Semoga Alloh merahmatinya- datang ke Mesir, maka beliau belajar (dan berpindah madzhab) ke Imam Syafi’i. Imam Abu Tsaur dari Madzhab Hanafi pindah ke Madzhab Syafi’i. Imam Ibnu ‘Abdil Hakam dari Madzhab Maliki ke Madzhab Syafi’i kemudian kembali lagi ke Madzhab Maliki, Imam Abu Ja’far bin Nashr dari Madzhab Hambali ke Madzhab Syafi’i. Imam Thokhawi dari Madzhab Syafi’i ke Madzhab Hanafi, Imam Sam’ani dari Madzhab Hanafi ke Madzhab Syafi’i. Imam Khothib Al Baghdadi, Imam Amudi dan Imam Ibnu Burhan dari Madzhab Hambali ke Madzhab Syafi’i. Imam Ibnu Faris pengarang kitab Al Mujmal dari Madzhab Syafi’i ke Madzhab Maliki, Imam Ibnu Ad Dahan dari Madzhab Hambali ke Madzhab Hanafi kemudian pindah lagi ke Madzhab Syafi’i. Imam Ibnu Daqiq Al ‘Ied dari Madzhab Maliki ke Madzhab Syafi’i dan Imam Abu Khayyan dari Madzhab Dhohiri ke Madzhab Syafi’I, (yang) menuturkan ini (adalah) Imam Asnawi dan lainnya.

    BUKANKAH INI KEINDAHAN ISLAM YANG TELAH DITUNJUKKAN PARA SALAFUSSOLIH?

    Sebenarnya saya punya impian yang mungkin orang lain menganggap itu adalah hal yang konyol yakni BERSATUNYA UMAT ISLAM MELAWAN MUSUH ISLAM YANG SEJATI, BUKAN DENGAN SESAMA ISLAM, dan ini terinspirasi dengan perilaku ayah dan pama-paman saya. Perlu diketahui ayah saya adalah pengikut setia NU dan paman saya adalah pimpinan muhammadiyah kabupaten Trenggalek kala itu, pada waktu beliau-beliau berkumpul yang ada hanyalah senyuman, ramah tamah, gelak tawa yang menyejukkan jiwa dan penuh dengan nuansa ukhuwah yang sangat kental, padahal kita tahu asal muhammadiyahpun kalau kita telusuri juga dari wahabiyyah kala itu. Oleh karena itu saya akan berusaha untuk berdiskusi dengan fair dengan dasar-dasar yang saya ketahui, dan apabila itu adalah khilaf insya alloh akan saya katakan khilaf, dan apabila ada yang memberikan dasar yang lebih akurat, lebih kuat insya alloh akan saya terima dengan lapang dada. Dan IMPIAN SAYA YANG MUNGKIN MASIH BERUPA IMPIAN ADALAH SABDA NABI SAW.:
    صحيح البخارى 2446 (ج 9 / ص 103)
    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِى بُرْدَةَ عَنْ أَبِى مُوسَى – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ». وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ. طرفاه 481 ، 6026 – تحفة 9040
    Artinya: Sahabat Abi Musa RA. dari Nabi SAW., beliau bersabda: “Mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan, yang (saling) menguatkan (antara) satu pada lainnya”. Dan beliau nabi SAW. merapatkan antara jari jemari beliau.

    MUDAH-MUDAHAN IMPIAN INI TERWUJUD, MINIMAL KELAK DI HARI TUA SAYA DIBERI KESEMPATAN UNTUK MENYAKSIKAN BERSATUNYA MUSLIM, DALAM SEGALA PERBEDAAN YANG ADA makasi mas paijo. Jazaakumulloh…

  44. Setelah saya download dan membaca sekilas/dua kilas buku “Tahlilan menurut Madzhab Imam Syafi’i” di atas, isinya cukup banyak dengan dalil2 dan juga perkataan para ulama. Tetapi sayang seribu sayang, isinya hanya menjelaskan tentang sampainya menghadiahkan pahala kepada mayit, sama sekali belum mencantumkan dalil dan perkataan ulama tentang tahlilan membaca Al-Qur’an/doa/dzikir secara keras, berjamaah, pada hari ke-1, 3, 7, 40, 100, dst.
    Strategi pemasaran si penulis buku oke juga tuh. Supaya laku dijual & didownload, bikin judul yang bombastis “Tahlilan menurut Madzhab Imam Syafi’i”. Ketika membaca judulnya para pembaca akan mengira bahwa Imam Syafi’i melakukan tahlilan (berkumpul di rumah ahli mayit sambil membaca doa/dzikir berjamaah pada hari ke-1,3,7,dst), tetapi setelah membaca isinya ternyata cuma tentang sampainya menghadiahkan pahala kepada mayit. Kalau itu sih salafi juga punya buku2 semisal di antaranya Kitab “Ar-Ruh” milik Ibnul Qayyim dan Kitab “Masih Ada Harapan Amal Shalih Buat yang Sudah Mati” yang berisi kumpulan fatwa Ibnu Taimiyah dari Majmu’ Fatawa dan Ibnul Qayyim dari Kitab Ar-Ruh.
    Saran untuk buku:
    Karena belum ada hubungan/korelasi antara judul dengan isinya, sebaiknya judulnya diganti aja dengan “Sampainya Menghadiahkan Pahala Kepada Mayit menurut Madzhab Imam Syafi’i”. Kalo judulnya begini baru cocok deh dengan isinya.
    Untuk Aki Lasykar:
    Saya ada pertanyaan nih. Ketika gurunya Imam Syafi’i meninggal, Imam Malik, apakah Imam Syafi’i menggelar tahlilan dengan cara mengumpulkan orang2 untuk membaca doa/dzikir berjamaah pada hari ke-1,3,7,40,dst. Dan juga ketika Imam Syafi’i meninggal, apakah Imam Ahmad menggelar tahlilan? Apakah ketika Imam Ahmad meninggal, Imam Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud menggelar tahlilan untuk Imam Ahmad? Jika antum menjawab iya, tolong saya yg masih sedikit ilmunya ini antum beri kutipan perkataan Imam Syafi’i yang berisi pernah menggelar tahlilan dengan cara mengumpulkan orang banyak untuk membaca doa/dzikir bareng-bareng dengan suara keras pada hari ke-1,3,7,40,dst. Jadi biar nggak percuma si penulis buku dan para pendukungnya capek2 menulis buanyak dalil tentang sampainya mengirim pahala kepada mayit menurut madzhab Imam Syafi’i, tetapi tidak ada perkataan/perbuatan Imam Syafi’i satupun yang berisi menggelar tahlilan ala orang Indonesia. Terima kasih jawabannya.

  45. Mas anonoim: Seputar haul Imam Utsaimin, saya ada beberapa pertanyaan nih buat Aki Lasykar, soalnya saya ketinggalan berita, mungkin Aki Lasykar pernah ikut menghadiri acara tersebut:
    1. Diselenggarakan di negara mana ya, Arab Saudi atau Mesir? Yang menyelenggarakan pemerintah Saudi atau Mesir?
    2. Isi acaranya apa ya, menggelar tahlilan mengirim pahala doa/dzikir bareng2 untuk Syaikh Utsaimin ataukah acara pemberian penghargaan dari Pemerintah Mesir kepada Syaikh Utsaimin atas semua jasa2nya?
    3. Acaranya dilakukan rutin setiap tahun sekali, 2 tahun sekali, 3 tahun sekali, dst ataukah cuma 1 kali saja.
    Kalau ketiga pertanyaan di atas telah terjawab, Aki Lasykar bisa menyimpulkan: sama/tidakkah dengan acara haul yg ada di Indonesia? Terima kasih atas jawabannya.

    Saya: saya kira anda cukup meng klik laptop anda dengan kata kunci “haul utsaimin” dan itu insya alloh akan menjawab semua pertanyaan anda kok mas anonym…. Dan Alhamdulillah Negara tersebut sudah kami kunjungi. Trims… dan untuk pertanyaan lainnya? Adakah qur’an hadistnya? Tolong dengan hormat di jawab. Sebenarnya saya enggan melontarkan pertanyaan ini,

    Mas anonnim: Untuk Aki Lasykar:
    Saya ada pertanyaan nih. Ketika gurunya Imam Syafi’i meninggal, Imam Malik, apakah Imam Syafi’i menggelar tahlilan dengan cara mengumpulkan orang2 untuk membaca doa/dzikir berjamaah pada hari ke-1,3,7,40,dst. Dan juga ketika Imam Syafi’i meninggal, apakah Imam Ahmad menggelar tahlilan? Apakah ketika Imam Ahmad meninggal, Imam Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud menggelar tahlilan untuk Imam Ahmad? Jika antum menjawab iya, tolong saya yg masih sedikit ilmunya ini antum beri kutipan perkataan Imam Syafi’i yang berisi pernah menggelar tahlilan dengan cara mengumpulkan orang banyak untuk membaca doa/dzikir bareng-bareng dengan suara keras pada hari ke-1,3,7,40,dst. Jadi biar nggak percuma si penulis buku dan para pendukungnya capek2 menulis buanyak dalil tentang sampainya mengirim pahala kepada mayit menurut madzhab Imam Syafi’i, tetapi tidak ada perkataan/perbuatan Imam Syafi’i satupun yang berisi menggelar tahlilan ala orang Indonesia. Terima kasih jawabannya.

    Saya : pertanyaan anda setali tiga uang dengan apa yang saya tanyakan yakni MAJLIS TAKRIM DLL. Yakni sama-sama ranah ijtihad… dan mungkin pandangan anda tentang jawaban sayapun akan terkesan diplomatis. KARENA ANDA TIDAK MENJAWAB LANGSUNG PERTANYAAN SAYA, DAN ITU SAYA ANGGAP MAKLUM, MAKA JAWABAN SAYAPUN AKAN TERKESAN DIPLOMATIS MENURUT ANDA.
    gini mas anonim perlu saya tegaskan bahwa acara tahlilan adalah ranah ijtihad, dan semua yang termasuk dalam ranah ijtihadpun saya kira ulama salafipun juga akan melakukan hal yang sama, yakni menimbang hal-hal yang dianggap perlu untuk melestarikan islam dengan berpegang teguh pada akidah Imam Madzhab,
    dan tahlil adalah bahasa Arab dari هلّل يهلل تهليلا yang artinya membaca kalimat Thayyibah (لا إله إلا الله). Namun ketika disebut Tahlilan di kalangan masyarakat, tidaklah hanya kalimat thayyibah (لا إله إلا الله) tapi ada tambahan bacaan yang beraneka ragam cara, ada bacaan الإخلاص، الفلق، الناس awal surat البقرة, ayat Kursi, akhir surat al-Baqarah di sela-selani واعف عنا واغفر لنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين lalu membaca ارحمنا يا أرحم الراحمين diteruskan dengan استغفار, Tasbih dan Tahmid. Sehingga menjadi umum yang diketahui masyarakat, jadi sebenarnya tahlil merupakan: INTI DZIKIR KEPADA ALLOH YANG DI MUQODDIMAHI DAN DILENGKAPI DENGAN:
    1. Bacaan Al Qur’an seperti, Akhir Surat Baqoroh, Surat Al Ikhlas dan Surat Mu’awidzatain.
    2. Kalimat Thayyibah.
    3. Istighfar.
    4. Tasbih dan Tahmid.
    5. Sholawat Nabi.
    6. Doa.
    Hal ini dalam istilah ilmu nahwu disebut ‘Alam Ghalabah, sebagaimana ungkapan Imam Ibnu Malik:
    وقد يصير علما بالغلبة # مضافا أو مصحوب ال كالعقبة
    Dalam istilah ilmu balaghah (Ilmu sastra Arab) disebut dengan Majaz Mursal /مجاز مرسل, yakni mengucapkan sebagian, tapi yang dimaksud adalah keseluruhan. Sebagaimana Ungkapan Imam Ahkdlori dalam Jauharul Maknun:
    أو لغوي والمجاز مرسل # أو استعارة فأما الأول
    فما سوى تشابه علاقته # جزء وكل أو محل ألته
    (lihat: Alfiyyah ibnu Malik, Jauharul Maknun dan Al Juman)
    Catatan:
    Kalimat Thayyibah adalah bacaan Laa Ilaha IllAlloh لا إله إلا الله.
    Istighfar adalah bacaan أستغفر الله العظيم
    Tasbih Adalah bacaan SubhanAlloh سبحان الله.
    Tahmid adalah bacaan Alhamdulillah الحمدلله.

    ADAKAH PERBEDAAN ANTARA TAHLILAN DENGAN:
    1. Pengumpulan mushaf yang di pelopori oleh sayidina Umar kemudian disempurnakan oleh sayidina usman?
    2. Kumpulan do’a-do’a yang anda pegang?
    3. CD SYAMILAH YANG KITA PUNYA?
    4. Kitab fiqih, alat nahwu shorof yang anda pegang?
    5. Buku yang berjilid-jilid yang mengambil dari al qur’an dan hadist?
    6. Kitab arruuh?
    7. Kitab masih ada harapan amal sholih?
    COBA RENUNGKAN DENGAN HATI YANG MENDALAM.

    PERLU ANDA KETAHUI TIDAK DALAM SETIAP PERMASALAHAN IMAM SYAFI’I MEMBERIKAN KETERANGAN TENTANG HUKUM FIQH, NAMUN DALAM STRATA MADZHAB SYAFI’I ADA ISTILAH MUJATHID MUTHLAQ, MADZHAB, FATWA DAN NAQIL . NAMUN YANG TERPENTING SEMUA MENGIKUTI DASAR KAIDAH PEMIKIRAN IMAM SYAFI’I
    Dan perlu anda ketahui imam syafi’I pun juga pernah mengatakan:
    الأم – (ج 1 / ص 471)
    وأحب لو قرئ عند القبر ودعي للميت
    Artinya: “asy-Syafi’i berkata : aku menyukai sendainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur dan
    dibacakan do’a untuk mayyit”

    DAN LANJUTAN DARI IBARAT DIATAS ADALAH RANAH KHILAFIYYAH ANTARA IMAM SYAFI’I DAN LAINNYA MISAL IMAM ZAILA’I, IMAM NAWAWI ALBANTANI YANG MENGATAKAN BID’AH HASANAH (LIHAT DISKUSI SAYA DENGAN MAS MASNUN) YANG NOTABENE ADALAH MADZHAB SYAFI’I. SEBAGAI BERIKUT:
    الأم – (ج 1 / ص 471)
    وليس في ذلك دعاء مؤقت وأحب تعزية أهل الميت وجاء الأثر في تعزيتهم…
    Artinya: “dan hal diatas bukanlah do’a yang di batasi waktu, dan aku mencintai ta’ziah pada ahli mayit. Dan adanya atsar/perilaku sahabat yang melakukan takziah diantara mereka”.

    JADI MAS ANONIM JANGAN ANDA ANGGAP BAHWA SETIAP KEPUTUSAN HUKUM YANG BERBEDA DENGAN IMAM SYAFI’I PASTI SALAH. COBA ANDA TELAAH ILMU USHUL FIQH KAMI DAN FIQIH KAMI, MAKA ANDA AKAN MENEMUKAN PERKHILAFAN YANG SANGAT BANYAK. DAN SELAMA SAYA ,MENDALAMI MADZAHIBUL ARBA’AH, SAYA TIDAK MERASA BERAT. MALAH BANYAK HAL-HAL BARU YANG SAYA TEMUKAN. Salah satunya adalah yang tercantum dalam buku ashaburro’yi yang senada dengan kitab bulugul umniyyah imam nawawi al bantani sebagai berikut:
    أن سنة الإطعام سبعة أيام، بلغني أنها مستمرة إلى الآن بمكة والمدينة، فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة إلى الآن، وأنهم أخذوها خلفا عن سلف إلى الصدر الأول
    “Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai kepadaku bahwa
    sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan sampai sekarang (yakni masa al-Hafidz sendiri) di Makkah dan Madinah. Maka secara dhahir, amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga generasi awal Islam. Dan didalam kitab-kitab tarikh ketika menuturkan tentang para Imam, mereka mengatakan “manusia (umat Islam) menegakkan amalan diatas kuburnya selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an’. Ini sekaligus persaksian (saksi mata) adanya kegiatan kenduri 7 hari di Makkah dan Madinah sejak dahulu kala. 73 Hal ini kembali di kisahkan oleh al-‘Allamah al-Jalil asy-Syaikh al-Fadlil Muhammad Nur al-Buqis didalam kitab beliau yang khusus membahas kegiatan tahlilan (kenduri arwah) yakni “Kasyful Astaar” dengan menaqal perkataan Imam As-Suyuthi :
    أن سنة الإطعام سبعة أيام بلغني و رأيته أنها مستمرة إلى الأن بمكة والمدينة من السنة 1947 م إلى ان رجعت إلى إندونيسيا فى
    السنة 1958 م. فالظاهر انها لم تترك من الصحابة إلى الأن وأنهم أخذوها خلفاً عن سلف إلى الصدر الإول. اه. وهذا نقلناها
    من قول السيوطى بتصرفٍ . وقال الإمام الحافظ السيوطى : وشرع الإطعام لإنه قد يكون له ذنب يحتاج ما يكفرها من صدقةٍ
    ونحوها فكان فى الصدقةِ معونةٌ لهُ على تخفيف الذنوب ليخفف عنه هول السؤل وصعوبة خطاب الملكين وإغلاظهما و
    انتهارهما.
    “Sungguh sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai informasi kepadaku dan
    aku menyaksikan sendiri bahwa hal ini (kenduri memberi makan 7 hari) berkelanjutan sampai
    sekarang di Makkah dan Madinah (tetap ada) dari tahun 1947 M sampai aku kembali
    Indonesia tahun 1958 M. Maka faktanya amalan itu memang tidak pernah di tinggalkan sejak
    zaman sahabat nabi hingga sekarang, dan mereka menerima (memperoleh) cara seperti itu
    dari salafush shaleh sampai masa awal Islam. Ini saya nukil dari perkataan Imam al-Hafidz
    as-Suyuthi dengan sedikit perubahan. al-Imam al-Hafidz As-Suyuthi berkata : “disyariatkan
    memberi makan (shadaqah) karena ada kemungkinan orang mati memiliki dosa yang
    memerlukan sebuah penghapusan dengan shadaqah dan seumpamanya, maka jadilah
    shadaqah itu sebagai bantuan baginya untuk meringankan dosanya agar diringankan baginya
    dahsyatnya pertanyaan kubur, sulitnya menghadapi menghadapi malaikat, kebegisannyaa
    dan gertakannya”. 74
    73 Lihat : al-Hawi al-Fatawi [2/234] lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi.
    74 Lihat : Kasyful Astaar lil-‘Allamah al-Jalil Muhammad Nur al-Buqir, beliau merupakan murid dari ulama besar seperti Syaikh
    Hasan al-Yamani, Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Kutubi, Syaikh Sayyid Alwi Abbas al-Maliki, Syaikh ‘Ali al-Maghribi al-
    Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath dan Syaikh Alimuddin Muhammad Yasiin al-Fadani.

    ADA SATU PERTANYAAN UNTUK ANDA MAS ANONIM, ADAKAH DALIL NASH AL QUR’AN DAN ALHADIST YANG MENGATAKAN TAHLILAN ITU HARAM, SATU SAJA YANG TEPAT, SHORIH DAN BUKAN MASUK DALAM RANAH KHILAFIYYAH???? SEMISAL MAAF DENGAN LAFADZ BEGINI:
    وقد حرم الله التهليلان
    Artinya: “dan Alloh ta’ala benar-benar mengharamkan tahlilan”
    TOLONG DITANGGAPI. Makasih….

  46. @anonim
    oia dari nada tulisan anda, anda menganggap saya dan mas aki satu orang ya? maaf mas aki adalah saudara seiman saya, bukan saya. trims

  47. Mas Anonim menulis :
    Saya ada pertanyaan nih. Ketika gurunya Imam Syafi’i meninggal, Imam Malik, apakah Imam Syafi’i menggelar tahlilan dengan cara mengumpulkan orang2 untuk membaca doa/dzikir berjamaah pada hari ke-1,3,7,40,dst. Dan juga ketika Imam Syafi’i meninggal, apakah Imam Ahmad menggelar tahlilan? Apakah ketika Imam Ahmad meninggal, Imam Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud menggelar tahlilan untuk Imam Ahmad? Jika antum menjawab iya, tolong saya yg masih sedikit ilmunya ini antum beri kutipan perkataan Imam Syafi’i yang berisi pernah menggelar tahlilan dengan cara mengumpulkan orang banyak untuk membaca doa/dzikir bareng-bareng dengan suara keras pada hari ke-1,3,7,40,dst. Jadi biar nggak percuma si penulis buku dan para pendukungnya capek2 menulis buanyak dalil tentang sampainya mengirim pahala kepada mayit menurut madzhab Imam Syafi’i, tetapi tidak ada perkataan/perbuatan Imam Syafi’i satupun yang berisi menggelar tahlilan ala orang Indonesia. Terima kasih jawabannya.
    Mas Lasykar menjawab :
    (MUETER-MUETER TAK KENA SASARAN)

    • Ya betul Mas Prapto. Padahal cuman butuh jawaban singkat: Imam Syafi’i menggelar tahlilan atau tidak menggelar tahlilan.

  48. @ prapto

    ADA SATU PERTANYAAN UNTUK ANDA MAS ANONIM, ADAKAH DALIL NASH AL QUR’AN DAN ALHADIST YANG MENGATAKAN TAHLILAN ITU HARAM, SATU SAJA YANG TEPAT, SHORIH DAN BUKAN MASUK DALAM RANAH KHILAFIYYAH???? SEMISAL MAAF DENGAN LAFADZ BEGINI:
    وقد حرم الله التهليلان
    Artinya: “dan Alloh ta’ala benar-benar mengharamkan tahlilan”
    TOLONG DITANGGAPI. Makasih….

    JUGA MUTER MUTER TAK KENA SASARAN HEHEHE SENYUM AJA UNTUK MAS PRAPTO

    • Allah berfirman: “Katakanlah: Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi:103-104).
      Ibnu Katsir berkata, “Sesungguhnya ayat ini Makiyah (turun sebelum peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah), sebelum berbicara terhadap orang-orang Yahudi dan Nashara, dan sebelum adanya al-Khawarij (kaum pertama pembuat bid’ah) sama sekali. Sesungguhnya ayat ini umum meliputi setiap orang yang beribadah kepada Allah dengan jalan yang tidak diridhai Allah, dia menyangka bahwa dia telah berbuat benar di dalam ibadah tersebut padahal dia telah berbuat salah dan amalannya tertolak. (Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim)
      Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang beramal satu amalan yang tidak ada perintahku padanya, maka dia tertolak.”(HR. Muslim).
      Allah berfirman: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah (QS. Al Ahdzab : 21).

  49. Oia mumpung mas prapto muncul, gimana pertanyaan saya yang kemaren? Apa juga seperti jawaban saya yang anda katakan MUETER MUTER? hehehe maaf diskusi biar santei sambil senyam-senyum…

  50. Tambah satu lagi pertanyaan mas prapto? DAKWAH VIA INTERNET ADAKAH QUR’AN HADISTNYA? maaf agak merepotkan.

    • #100.1
      Anonim Indonesia Mozilla Firefox Windows

      Internet/radio utk dakwah, mie kropon utk adzan/ceramah, naik haji pake pesawat, lampu penerang masjid saat sholat itu sarana yang mendukung ibadah, bukan ibadah itu sendiri. Adapun ibadah dakwah, naik haji, sholat itu telah ada. Sedangkan tahlilan itu bukan sarana pendukung ibadah tapi ibadah itu sendiri.
      Sahabat Tamim ad-Dhari adalah orang yg pertama kali meletakkan lampu di masjid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Beritahu saya melalui email jika ada balasan komentar di artikel ini. Anda juga dapat berlangganan tanpa harus memberi komentar.