Home » Headline » Pengaruh Kaum Ba’Alawi dalam Penyebaran Islam Di Indonesia

Pengaruh Kaum Ba’Alawi dalam Penyebaran Islam Di Indonesia

Gustav Lebon mengatakan, “Bahwa kami tidak melihat adanya suatu bangsa yang mempunyai pengaruh yang nyata seperti bangsa Arab. Semua bangsa, yang bangsa Arab berhubungan dengannya pasti mengikuti kebudayaan Arab. Ketika bangsa Arab hilang dari panggung sejarah, maka para tirani berkuasa, seperti bangsa Turki dan Mongol, atas tradisi- tradisi mereka”.

Menurut ‘Alwi bin Thahir Al-Haddad, memang benar bahwa kebudayaan Arab telah mati, tetapi kini Dunia Islam yang membentang dari daerah-daerah pesisir Samudra Atlantik hingga India, dan Laut Tengah hingga daerah padang pasir, tidak dikenal kecuali sebagai pengikut Muhammad dan bahasanya. Para Syarif dari Hadhramaut, dari keturunan Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Al-Shadiq, termasuk para da’i yang menyebarkan agama Islam di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.

Muhammad Ba Mathraf, seorang ahli sejarah Hadhramaut, melihat kaum Ba ‘Alawi merupakan kelompok terbesar dari kabilah Hadhrami yang hijrah ke Asia dan Afrika.

L.W.C van den Berg, Islamolog dan ahli hukum Belanda yg mengadakan riset pada 1884-1886, dalam bukunya Le Hadhramout et les colonies arabes dans l’archipel Indien (1886) mengatakan:

“Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam (ke Indonesia) adalah dari orang-orang Sayyid Syarif. Dengan perantara mereka agama Islam tersiar diantara raja-raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain Hadhramaut (yang bukan golongan Sayyid Syarif), tetapi mereka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka (kaum Sayyid) adalah keturunan dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad Saw).”

Van den Berg juga menulis dalam buku yang sama (hal 192-204) : “Pada abad ke-15, di Jawa sudah terdapat penduduk bangsa Arab atau keturunannya, yaitu sesudah masa kerajaan Majapahit yg kuat itu. Orang-orang Arab bercampur-gaul dengan penduduk, dan sebagian mereka mempunyai jabatan-jabatan tinggi. Mereka terikat dengan pergaulan dan kekeluargaan tingkat atasan. Rupanya pembesar-pembesar Hindu di Kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat-sifat keahlian Arab, oleh karena sebagian besar mereka berketurunan pendiri Islam ( Nabi Muhammad Saw). Orang-orang Arab Hadhramaut membawa kepada orang- orang Hindu pikiran baru yg diteruskan oleh peranakan-peranakan Arab, mengikuti jejak nenek moyangnya.”

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara, untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, dan jg pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Para Walisongo adalah intelektual yg menjadi pembaharu masyarakat pada masanya, keturunan mereka bersambung hingga Nabi Muhammad Saw (kecuali Sunan Kali Jaga), dan masih ada hubungan keluarga dengan para syarif maupun sayid Hadhramaut.

Hingga saat ini umat Islam di Hadhramaut sebagian besar bermadzhab Syafi’i, sama seperti mayoritas di Srilangka, pesisir India Barat (Gujarat dan Malabar), Malaysia dan Indonesia. Bandingkan dengan umat Islam di Uzbekistan dan seluruh Asia Tengah Pakistan dan India pedalaman yang sebagian besar bermadzhab Hanafi.

Kesamaan dalam pengamalan madzhab Syafi’i bercorak tasawuf dan mengutamakan Ahlul Bait; seperti mengadakan Maulid, membaca Diba & Barzanji, beragam Shalawat Nabi, doa Nur Nubuwwah dan banyak amalan lainnya hanya terdapat di Hadramaut Mesir, Gujarat, Malabar, Srilangka, Sulu & Mindanao, Malaysia dan Indonesia.

Kitab Fiqh Syafi’i Fathul Muin yang populer di Indonesia dikarang oleh Zainudin Al-Malabary dari Malabar, isinya memasukkan pendapat- pendapat baik kaum Fuqaha maupun kaum Sufi. Hal tersebut mengindikasikan kesamaan sumber yaitu Hadramaut, karena Hadramaut adalah sumber pertama dalam sejarah Islam yang menggabungkan Fiqih Syafi’i dengan pengamalan tasawuf dan pengutamaan Ahlul Bait.

Dari uraian singkat diatas, dapat disimpulkan bahwa keturunan dari Muhammad bin ‘Alawi Ba ‘Alawi, atau yang disebut dengan kelompok Ba ‘Alawi mempunyai peranan penting dalam mewarnai Islam di Asia Tenggara, dan Indonesia pada khususnya. Oleh karena itu, wajar bila sejarah mereka dilihat sebagai bagian penting dalam kajian sejarah Islam di Asia Tenggara dan Indonesia. Tradisi-tradisi ibadah yang dikembangkan oleh para tokoh Muslim dari keturunan mereka biasa disebut dengan Thariqah’ Alawiyyah.

Pemakaman Ba’alwi di Tarim

 

Maqam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi

About bamah

BAMAH Barisan Muda Arrabithah Alawiyyah, suatu ikatan keluarga besar Alawiyyin di Cirebon Sewilayah III.

Check Also

Konferensi Risalah Amman

Risalah Amman Fatwa Konferensi Ulama Islam Internasional plus download pdf

RISALAH ‘AMMAN KONFERENSI PERSATUAN ULAMA’ ISLAM INTERNASIONAL   Konferensi ini diadakan di Amman, Mamlakah Arabiyyah …

2 comments

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai sejarah indonesia.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai tempat bersejarah di indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di Indonesia Gunadarma

  2. Assalamualaikum Artikel yang bagus, bisa kita diskusi lebih lanjut ? Saya santri habib zaky bin ali alaydrus padalarang

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Beritahu saya melalui email jika ada balasan komentar di artikel ini. Anda juga dapat berlangganan tanpa harus memberi komentar.